Senin, 21 Agustus 2017

UCAPAN TERIMA KASIH WISUDAWAN



UCAPAN TERIMA KASIH WISUDAWAN

Bismillahirrahmanirrahim...
Yang Terhormat:
1.      Rektor Universitas Negeri Jakarta

Yang saya hormati:
2.      Direktur Pembelajaran Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi.
3.      Para Pembantu Rektor
4.      Direktur Pascasarjana
5.      Para Dekan
6.      Para Pembantu Dekan I
7.      Para Ketua Lembaga
8.      Para Kepala Biro
9.      Para Ketua Program Studi
10.  Bapak/Ibu Dosen dan Sivitas Akademika UNJ, dan
11.  Para lulusan Program PPG Prajabatan 2015/2016

Asalamualaikum, Wr. Wb.
Om Swasti astu...
Salam sejahtera untuk kita semua.

Bapak/Ibu hadirin yang berbahagia.
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, sang pemilik kuasa atas bumi dan langit, shalawat kepada Rasul-Nya, serta para utusan-Nya yang membawa pencerahan bagi umat manusia.

Pengabdian semangatnya.......
Cita-cita tujuannya...
Inilah kami PPG Prajabatan UNJ
Pada kesempatan ini, saya mewakili peserta PPG Prajabatan Angkatan III UNJ dan PPGT Angkatan I untuk menyampaikan pesan dan kesan. Tak mudah untuk menyampaikan semua. Banyak kata yang terbang di langit, tetapi tentu saja ingatan tak akan padam. Ia akan tetap menjejak bumi. Kesempurnaan hanya milik Ilahi Rabbi, manusia hanya bisa menuju kesempurnaan dengan komunikasi yang saling mengisi. Secara umum kami sangat berbahagia dan bersyukur menjadi bagian dari keluarga besar UNJ, di sini kami dididik seperti anak kandung sendiri.

Bapak/Ibu hadirin yang berbahagia.
Pendidikan menyempurnakan kemanusiaan
Ilmu menumbuhkan harapan
Berangkat dari hal tersebut, akhirnya kami bisa berada di ruang ini setelah melewati tiga proses penting. Yang pertama workshop pengembangan perangkat pembelajaran. Di mana kami mendapatkan bimbingan, dan ilmu yang bermanfaat dari dosen-dosen kami. Yang kedua proses PPL. Kami dilatih dalam dunia yang nyata menemukan pertanyaan serta jawaban atas pertanyaan itu.  ”Setahap demi setahap kami belajar menjadi Guru yang Profesional”  Yang ketiga adalah kehidupan berasrama.

Bapak/Ibu hadirin yang berbahagia.
Setiap kelahiran membutuhkan bimbingan, begitupun kelahiran kami. dengan gelar Guru Profesional ”gelar baru dan harapan yang kembali tumbuh”.
Semangat tak akan padam sebab hidup terus berlanjut. Ia tak akan menoleh ke belakang juga tak menunduk ke bawah, tetapi ia akan selalu menatap ke depan. Kami akan terus menggelorakan semangat untuk mendidik anak-anak terbaik di seluruh pelosok tanah air.
Mengabdi di pelosok negeri. Mengajarkan kami begitu banyak hal. Mengajarkan kami tentang kerinduan, toleransi, dan kerja sama. Kami merasakan arti suatu kebangggaan. Bagaimana bangganya ketika melihat siswa-siswi kami yang semula belum bisa menulis dan membaca, sudah mampu menulis nama mereka di dinding sekolah, mampu membaca kata rindu di dalam dada; Indonesia. Semoga itu dapat menjadi bekal mereka untuk MENULIS DAN MEMBACA MASA DEPAN. Saat itu, air mata yang jatuh adalah do’a-do’a yang panjang.
Semoga kami mampu mengemban amanah menjaga nama baik Almamater UNJ.
Dalam kesempatan kali ini, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi atas penerimaan lulusan SM-3T melalui penerimaan CPNS jalur khusus dan Pemberdayaan alumni PPG Prajabatan. Semoga bisa terus berlanjut. Amin...

Perlahan jarak mulai terlipat setelah musim-musim yang ringkas
Waktu adalah serupa mata pisau yang ujungnya siap mengintai

Siapkan dirimu kawan. Sebentar lagi pancaroba.
Akhirnya, kami mengucapkan terima kasih kepada orang tua kami, saudara, serta keluarga yang dengan kesabaran dan kesungguhan dalam sujudnya. Semoga gelar baru ini dapat menjawab do’a-do’a mereka. Terima kasih pula kami ucapkan kepada Rektor UNJ, ketua LPP UNJ, pimpinan Fakultas dan Jurusan, Bapak dan Ibu dosen, pengurus asrama, dan terakhir terkhusus kepada Direktur Pembelajaran Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, yang telah menggelorakan semangat sarjana-sarjana pendidikan, mengajar dan melibatkan kami dalam mengabdi kepada negeri tercinta.
Kawan... jangan gelisah, sebab usaha dan takdir akan selalu bersama, tak ada perjuangan yang mudah. Tetapi kita juga yakin bahwa tak ada perjuangan yang sia-sia. Tuhan bersama langkah-langkah kita, dalam do’a bersama air mata-air mata yang jatuh.
Banyak kata yang tak terwakilkan, sebab itu izinkan suara hati menjadi penggantinya. Ia akan tersampaikan melalui relung-relung perenungan kita semua.

Bapak/Ibu hadirin yang berbahagia.
Masih ada kemungkinan untuk kita bertemu kembali, bukan selamat tinggal yang kami ucapkan, tetapi sampai jumpa pada kisah-kisah kami selanjutnya.
Demikianlah yang sempat kami sampaikan. Lebihnya karena Kuasa Ilahi, kekurangannya karena ketidak sempurnaan kami.

PPG adalah harapan
PPG adalah harapan
PPG adalah harapan

Billahitaufikwalhidayah,
Wasalamualaikum, Wr. Wb.

PERSEMBAHAN



PERSEMBAHAN

“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”
Ku Persembahkan Atas Rindu dan kasih sayang yang dalam

Teruntuk
Ibu;......  Masih terasa kasih sayangmu yang takkan habis termakan waktu Walaupun diriku sering menyusahkanmu bahkan sering engkau menangis karena ulahku yang tak perna mengerti dan selalu menyakitimu, namun engkau tetap menyayangiku tetapi kini ku menyesali setelah ku tahu engkau telah pergi, belum sempat engkau menimang cucu yang engkau dambakan namun kedua tanganmu telah terbujur kaku. Belum sempat aku membalas sejuta kasih sayangmu. Namun engkau telah pergi menghadapi ilahi..... ya allah, tuhanku dengarlah doaku ini, terima dia di sisimu....
Ayah;......Nasihatmu memberi kekuatan untukku, rangkulanmu menjadi penyangga kerapuhanku, untuk menapaki hari-hari penuh liku. Kulihat semangat menggelora dalam dirimu, terkumpul seluruh daya dunia. Semoga semua itu tak akan pernah layu! dan Membuatku terus untuk tetap berjalan
Buat Sahabat sahabatku;.....Terima kasih atas bantuan, doa, nasehat, hiburan, dan semangat yang Kalian semua berikan selama dalam perkuliahan sampai pada penyusunan hasil akhir ini, saya tak akan melupakan semua yang telah kalian berikan selama ini. Buat adik-adik angkatan 2012 & 2013 terima kasih atas bantuan kalian, semangat kalian dan candaan kalian, aku tak akan melupakan kalian. Lebih khusus buat sahabatku Deden Fahrizal yang selalu memberi semangat Motivasi selama perkuliahan maupun dalam menyusun hasil akhir, terima kasih yang tak terbatas ku lantunkan.  

Lagu Mars SM3T“Maju Bersama”

Teks Lagu Mars SM3T“Maju Bersama”

Wahai pemuda dan pemudi harapan ibu pertiwi
mari kita raih prestasi bersama kita membangun negeri
jadilah pendidik yang berdedikasi mengabdi kepelosok negeri
mendidiklah dengan setulus hati agar tercipta generasi mandiri
mari kita maju bersama mencerdaskan Indonesia menjadi sarjana mendidik bangsa menujulah yang terdepan, gapai mereka yang terluar, jangkaulah mimpi-mimpi yang tertinggal demi terwujudnya Generasi Emas Indonesia

"Pengabdian Tak Bertepi"

PPGT UNJ

"Pengabdian Tak Bertepi"

Perkenalkan Nama Lengkap saya RUSLAN MAJID MAUROL,S.Pd.,Gr.
 Nama Panggilan "Lando Alor"(LA)
Cerita ini berkisah tentang bagaimana seorang guru benar-benar menjadi pelita bagi anak didiknya. Seorang guru yang bisa menjadi contoh dan teladan serta pantas untuk digugu dan ditiru.

Pada dasarnya Secangkir Kopi Kehidupan Guru banyak menyajikan kisah inspiratif ihwal dunia pendidikan, khususnya merekam kisah perjalanan seorang guru yang mengabdikan dirinya untuk mencerdaskan anak bangsa. Agar menarik, pengemasan cerita dibumbui konflik dengan latar belakang persahabatan, perjuangan dan pengabdian.

Saya tertegun betapa sepinya desa ini. Tidak terlihat satu orang pun yang lalu lalang. Tercatat memang hanya tiga ratusan orang penduduk Desa Margeta Kecamatan Alor Barat Daya,Kab.Alor di pesisir Selat Ombay,  kampung Bur'al ini. Tak lama, muncul satu orang yang penasaran dengan kedatangan Saya dan kemudian menunggu diujung dermaga. Dari sana, tinggal menunggu waktu untuk bertemu seorang pejuang pendidikan hebat di sini.
Seorang guru mulia itu bernama Inisial DL. Pertama kali bertemu Pak DL atau biasa disapa Denner, tak ada kesan berlebih sama sekali. Beliau memakai kaos dan celana pendek. Penampilannya sangat bisa menipu. Dari perawakannya, saya kira Denner hanyalah seorang pemuda setempat yang membantu mengajarkan anak-anak.
Ternyata, Acil sedang melatih anak-anak untuk upacara bendera hari Senin keesokan hari. Dengan mempraktikkan gerak jalan sebagai pengibar bendera, Acil mengajarkan anak-anaknya untuk berjalan tegap seperti dirinya.
Acil boleh dibilang masih termasuk guru muda. Dari penampilannya, umur Acil mungkin baru mendekati 30. Beliau baru menikah. Meskipun begitu, pasangan baru ini pun harus menghadapi tantangan terpisah samudra karena tuntutan tugas. Istrinya mengajar SMP di Halmahera Tengah sedang Acil, dengan segala kerendahan hati, tidak mengeluh mengajarkan sekitar 85 orang anak SD di desa kecil ini.
Beliau hanya satu-satunya guru yang mengajar di Desa Wayatim. Sebenarnya, berdua dengan kepala sekolah. Namun, kepala sekolah sering kali keluar desa karena harus menyelesaikan kuliah sarjana-nya di Ternate. Oleh karena itu, Acil-lah yang menjadi tumpuan anak-anak untuk bisa belajar di sekolah. Acil sebenarnya juga sedang menyelesaikan kuliah. Akan tetapi, dia rela menundanya sampai kepala sekolah terlebih dahulu selesai dan kembali bisa mengajar.
Acil bukanlah seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang rutin mendapatkan gaji lebih dari 1,5 juta per bulan plus bermacam-macam tunjangan. Status beliau hanya guru Pegawai Tidak Tetap (PTT) yang juga tidak digaji Pemda seperti yang seharusnya. Gaji beliau didapatkan dari sumbangan masyarakat desa. Masyarakat sepakat untuk menggaji Acil 650 ribu per bulan agar beliau tetap mengajar di desa mereka.
Dulu, Acil dibantu oleh dua orang guru bantu. Akan tetapi, mereka tidak betah dengan sepi dan terlalu terpencilnya desa ini sehingga memutuskan pergi dan mengajar di tempat yang lebih nyaman. Meski demikian, Acil tak pernah kecil hati. Dengan sumber daya yang sangat terbatas, beliau dengan senang hati mengajar enam kelas sekaligus setiap hari.
—
Kekaguman saya akan Acil tak berhenti sampai di sana. Beliau mulai menunjukkan satu per satu kelas yang diajarnya. Kami masuk ke bangunan yang sudah agak tua. Gedung sekolah ini dibangun dari swadaya masyarakat. Karena sudah dibangun sejak lama, catnya pun sudah mulai usang dan temboknya terlihat agak rapuh.
Kelas 1 dan kelas 2 digabung karena keterbatasan ruang. Di dalam ruangan itu, Acil membuat gambar-gambar dengan huruf alfabet kemudian ditempel di satu sisi ruang kelas. “Saya buat sendiri gambarnya. Biar gambarnya kurang bagus, yang penting anak-anak bisa tahu huruf dan bendanya,” ujar Acil.
Di kelas III, ada ‘Sudut Baca’ di pojok ruangan. Buku-buku disusun pada sebuah meja kecil. Meskipun buku-buku sudah tua, bahkan beberapa ada yang amat tua, anak-anak tetap bisa menambah pengetahuannya dengan membaca. “Jujur, untuk kelas 1, 2, dan 3, saya masih fokus agar mereka bisa membaca, menulis, dan berhitung dengan benar. Saya belum masuk ke kurikulum. Di kelas 4, baru saya mulai sesuai panduan silabus,” Acil menambahkan.
Saya mulai sering merinding merasakan apa yang sudah Acil lakukan.
Apa yang ada di kelas IV membuat saya sangat tertegun. Beliau membuat ‘Pojok Kreativitas Anak’ yang berisi dokumentasi kegiatan siswa. Acil menambahkan muatan lokal ‘Laut dan Terumbu Karang’ di SD ini. Acil berujar, “Ini sesuai dengan kondisi desa. Desa dekat dengan pantai yang punya terumbu karang. Anak-anak harus tahu bagaimana melestarikan terumbu karang.” Tak berhenti saya melihat dokumentasi foto itu satu per satu. Bagaimana anak-anak itu dengan ceria menanam, mempelajari, dan menjaga terumbu karang di desa mereka.
Dari tiga ruangan yang saya lihat, tidak ada satu sisi kelas pun yang kosong tanpa ornamen. Ada pantun, puisi, foto-foto pahlawan, karya-karya anak, gambar-gambar, dan apa pun yang bisa menambah atmosfer pembelajaran.
Belum lagi saya berhenti kagum, Acil kembali menunjukkan karyanya di kelas V dan VI. Beliau membawa saya ke gedung baru hasil bantuan pemerintah. Gedung kecil ini hanya berisi dua kelas. Kondisinya jauh lebih baik dari gedung sebelumnya karena sudah memakai beton dan lantai keramik sehingga terlihat kokoh dan bersih.
Di dalam kelas V, beliau membuat dua puluh poin peraturan kelas. Salah satunya tertulis, “Dilarang memakai bahasa daerah di kelas.” Jika ada anak yang melanggar, maka anak itu harus mengerjakan dua puluh soal yang dia pilih sendiri mata pelajarannya. Hal yang luar biasa mengingat kebanyakan guru di pedalaman Halmahera, lebih senang memukul anak jika mereka melanggar peraturan.
Ada juga jam mandiri. Anak-anak dilatih untuk inisiatif belajar sendiri jika Acil sedang mengajar kelas yang lain. Anak-anak juga dilatih untuk jujur ketika masuk kelas dan memutar sendiri jam masuknya pada minatur jam yang dibuat dari CD bekas. Ada lagi kartu absensi kelas untuk kehadiran setiap hari di kelas. Jika masuk ke sekolah, dia memutar kartu itu menjadi ‘Hadir’. Jika tidak, dibiarkan tetap ‘Alpa’.
Belum lagi ada portofolio anak-anak yang dipajang di sudut kelas. Dengan map plastik, setiap anak memasukkan karya-karyanya ke map itu. Gambar, puisi, kerajinan tangan, apa saja. Dokumentasi praktikum di luar kelas juga diletakkan bersisian dengan portofolio. Ada foto praktikum cahaya yang kembali membuat saya tak bisa berkata-kata.
Puas berkeliling sekolah, kami beranjak keluar kelas. Terlihat anak-anak duduk di bawah pohon dengan setia menunggu Acil. Saya mengajak Acil untuk minum teh bersama sambil mengobrol lebih lanjut di rumah kepala desa. Jawaban beliau tidak saya duga. “Maaf Pak, saya hanya bisa temani sampai sini saja. Saya harus melatih anak-anak upacara lagi.”