PPGT UNJ
"Pengabdian Tak Bertepi"
Perkenalkan Nama Lengkap saya RUSLAN MAJID MAUROL,S.Pd.,Gr.
Nama Panggilan "Lando Alor"(LA)
Cerita ini berkisah tentang bagaimana seorang guru benar-benar menjadi
pelita bagi anak didiknya. Seorang guru yang bisa menjadi contoh dan
teladan serta pantas untuk digugu dan ditiru.
Pada dasarnya Secangkir Kopi Kehidupan Guru banyak menyajikan
kisah inspiratif ihwal dunia pendidikan, khususnya merekam
kisah perjalanan seorang guru yang mengabdikan dirinya untuk
mencerdaskan anak bangsa. Agar menarik, pengemasan cerita dibumbui
konflik dengan latar belakang persahabatan, perjuangan dan pengabdian.
Saya tertegun betapa sepinya desa ini. Tidak terlihat satu orang pun
yang lalu lalang. Tercatat memang hanya tiga ratusan orang penduduk Desa Margeta Kecamatan Alor Barat Daya,Kab.Alor di pesisir Selat Ombay, kampung Bur'al ini. Tak lama, muncul
satu orang yang penasaran dengan kedatangan Saya dan kemudian menunggu
diujung dermaga. Dari sana, tinggal menunggu waktu untuk bertemu
seorang pejuang pendidikan hebat di sini.
Seorang guru mulia itu bernama Inisial DL. Pertama kali bertemu Pak DL atau biasa disapa Denner, tak ada kesan berlebih sama sekali. Beliau
memakai kaos dan celana pendek. Penampilannya sangat bisa menipu. Dari
perawakannya, saya kira Denner hanyalah seorang pemuda setempat yang
membantu mengajarkan anak-anak.
Ternyata, Acil sedang melatih anak-anak untuk upacara bendera hari
Senin keesokan hari. Dengan mempraktikkan gerak jalan sebagai pengibar
bendera, Acil mengajarkan anak-anaknya untuk berjalan tegap seperti
dirinya.
Acil boleh dibilang masih termasuk guru muda. Dari penampilannya,
umur Acil mungkin baru mendekati 30. Beliau baru menikah. Meskipun
begitu, pasangan baru ini pun harus menghadapi tantangan terpisah
samudra karena tuntutan tugas. Istrinya mengajar SMP di Halmahera Tengah
sedang Acil, dengan segala kerendahan hati, tidak mengeluh mengajarkan
sekitar 85 orang anak SD di desa kecil ini.
Beliau hanya satu-satunya guru yang mengajar di Desa Wayatim.
Sebenarnya, berdua dengan kepala sekolah. Namun, kepala sekolah sering
kali keluar desa karena harus menyelesaikan kuliah sarjana-nya di
Ternate. Oleh karena itu, Acil-lah yang menjadi tumpuan anak-anak untuk
bisa belajar di sekolah. Acil sebenarnya juga sedang menyelesaikan
kuliah. Akan tetapi, dia rela menundanya sampai kepala sekolah terlebih
dahulu selesai dan kembali bisa mengajar.
Acil bukanlah seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang rutin
mendapatkan gaji lebih dari 1,5 juta per bulan plus bermacam-macam
tunjangan. Status beliau hanya guru Pegawai Tidak Tetap (PTT) yang juga
tidak digaji Pemda seperti yang seharusnya. Gaji beliau didapatkan dari
sumbangan masyarakat desa. Masyarakat sepakat untuk menggaji Acil 650
ribu per bulan agar beliau tetap mengajar di desa mereka.
Dulu, Acil dibantu oleh dua orang guru bantu. Akan tetapi, mereka
tidak betah dengan sepi dan terlalu terpencilnya desa ini sehingga
memutuskan pergi dan mengajar di tempat yang lebih nyaman. Meski
demikian, Acil tak pernah kecil hati. Dengan sumber daya yang sangat
terbatas, beliau dengan senang hati mengajar enam kelas sekaligus setiap
hari.
—
Kekaguman saya akan Acil tak berhenti sampai di sana. Beliau mulai
menunjukkan satu per satu kelas yang diajarnya. Kami masuk ke bangunan
yang sudah agak tua. Gedung sekolah ini dibangun dari swadaya
masyarakat. Karena sudah dibangun sejak lama, catnya pun sudah mulai
usang dan temboknya terlihat agak rapuh.
Kelas 1 dan kelas 2 digabung karena keterbatasan ruang. Di dalam
ruangan itu, Acil membuat gambar-gambar dengan huruf alfabet kemudian
ditempel di satu sisi ruang kelas. “Saya buat sendiri gambarnya. Biar
gambarnya kurang bagus, yang penting anak-anak bisa tahu huruf dan
bendanya,” ujar Acil.
Di kelas III, ada ‘Sudut Baca’ di pojok ruangan. Buku-buku disusun
pada sebuah meja kecil. Meskipun buku-buku sudah tua, bahkan beberapa
ada yang amat tua, anak-anak tetap bisa menambah pengetahuannya dengan
membaca. “Jujur, untuk kelas 1, 2, dan 3, saya masih fokus agar mereka
bisa membaca, menulis, dan berhitung dengan benar. Saya belum masuk ke
kurikulum. Di kelas 4, baru saya mulai sesuai panduan silabus,” Acil
menambahkan.
Saya mulai sering merinding merasakan apa yang sudah Acil lakukan.
Saya mulai sering merinding merasakan apa yang sudah Acil lakukan.
Apa yang ada di kelas IV membuat saya sangat tertegun. Beliau membuat
‘Pojok Kreativitas Anak’ yang berisi dokumentasi kegiatan siswa. Acil
menambahkan muatan lokal ‘Laut dan Terumbu Karang’ di SD ini. Acil
berujar, “Ini sesuai dengan kondisi desa. Desa dekat dengan pantai yang
punya terumbu karang. Anak-anak harus tahu bagaimana melestarikan
terumbu karang.” Tak berhenti saya melihat dokumentasi foto itu satu per
satu. Bagaimana anak-anak itu dengan ceria menanam, mempelajari, dan
menjaga terumbu karang di desa mereka.
Dari tiga ruangan yang saya lihat, tidak ada satu sisi kelas pun yang
kosong tanpa ornamen. Ada pantun, puisi, foto-foto pahlawan,
karya-karya anak, gambar-gambar, dan apa pun yang bisa menambah atmosfer
pembelajaran.
Belum lagi saya berhenti kagum, Acil kembali menunjukkan karyanya di
kelas V dan VI. Beliau membawa saya ke gedung baru hasil bantuan
pemerintah. Gedung kecil ini hanya berisi dua kelas. Kondisinya jauh
lebih baik dari gedung sebelumnya karena sudah memakai beton dan lantai
keramik sehingga terlihat kokoh dan bersih.
Di dalam kelas V, beliau membuat dua puluh poin peraturan kelas.
Salah satunya tertulis, “Dilarang memakai bahasa daerah di kelas.” Jika
ada anak yang melanggar, maka anak itu harus mengerjakan dua puluh soal
yang dia pilih sendiri mata pelajarannya. Hal yang luar biasa mengingat
kebanyakan guru di pedalaman Halmahera, lebih senang memukul anak jika
mereka melanggar peraturan.
Ada juga jam mandiri. Anak-anak dilatih untuk inisiatif belajar
sendiri jika Acil sedang mengajar kelas yang lain. Anak-anak juga
dilatih untuk jujur ketika masuk kelas dan memutar sendiri jam masuknya
pada minatur jam yang dibuat dari CD bekas. Ada lagi kartu absensi kelas
untuk kehadiran setiap hari di kelas. Jika masuk ke sekolah, dia
memutar kartu itu menjadi ‘Hadir’. Jika tidak, dibiarkan tetap ‘Alpa’.
Belum lagi ada portofolio anak-anak yang dipajang di sudut kelas.
Dengan map plastik, setiap anak memasukkan karya-karyanya ke map itu.
Gambar, puisi, kerajinan tangan, apa saja. Dokumentasi praktikum di luar
kelas juga diletakkan bersisian dengan portofolio. Ada foto praktikum
cahaya yang kembali membuat saya tak bisa berkata-kata.
Puas berkeliling sekolah, kami beranjak keluar kelas. Terlihat
anak-anak duduk di bawah pohon dengan setia menunggu Acil. Saya mengajak
Acil untuk minum teh bersama sambil mengobrol lebih lanjut di rumah
kepala desa. Jawaban beliau tidak saya duga. “Maaf Pak, saya hanya bisa
temani sampai sini saja. Saya harus melatih anak-anak upacara lagi.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar