HIDUP DI TANAH RANTAU
SEBAGAI GURU (GGD II) DI TAPAL BATASRI-RDTL“Hidup di rantauan mengajarkan kita dan
Mengerti akan arti hidup yang sesungguhnya dan berada jauh dari orangtua,
merubah kita menjadi dewasa. Dewasa dalam berpikir, dewasa dalam bertingkah dan
dewasa dalam mengambil keputusan dalam mencerdaskan anak bangsa di lintas batas
RI-RDTL”.
Hari berganti hari, bulan berganti
bulan, tahun pun berganti, tak terasa 3 setengah Tahun sudah kulalui. Canda,
tawa, susah dan senang datang silih berganti. Itulah seni dari kehidupan di
lintas batas RI-RDTL. Sekian lama aku berkumpul bersama orang-orang asing ditempat
yang asing pula di lintas batas RI-RDTL. Kesendirian, kesunyian dan kehampaan saat
datangnya pagi hingga malam pun tiba selalu kurasa dalam hidupku. Betapa sulitnya
aku menyesuaikan diri di tempat yang asing ini di lintas batas RI-RDTL. Tak ada
saudara, tak ada keluarga, sahabat pun jarang ku temui. Dalam keadaan seperti
ini, aku bingung, aku ragu dan aku bimbang dalam menjalankan “Tugas Sebagai Guru
Garis Depan” di batas Wilaya NKRI di lintas batas RI-RDTL dan mengarungi kehidupan,
menjalani hidup ini sendiri bagaikan di luas dan Ganasnya samudra.
Dalam hati kecilku, aku bertanya-tanya,
mampukah aku menjalani semua ini?
Kasih sayang kini tak lagi kurasakan
dari orangtua yang tinggal seorang di kampung halamanku dan sanak saudaraku.
Saat ini, aku dituntut untuk bisa mencari dan menemukan kasih sayang dari
orang-orang asing ini. Tanpa kasih sayang dari keluarga aku harus bisa
menentukan hidupku sendiri. Betapa sulitnya hidup ini di lintas batas RI-RDTL.
Hidup ini tak segampang seperti kita membalikkan telapak tangan kawan dan
sahabatku.
Dengan segala kesederhanaan, dengan
segala kekurangan aku mulai menapaki hidup ini tanpa ditemani seorangpun. Ketika
bersama orangtua yang hanya tinggal seorang ayah dan sanak-saudaraku, walaupun
sederhana tapi aku selalu santai dalam menjalani hidup. Tetapi kini kenyataan
mulai berbalik. Bersama diriku sendiri, aku harus membuat segala sesuatu yang
tak ada menjadi ada. Membuat segala sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin.
Demi hidup masa depanku dan juga masa depan generasi bangsa, aku harus rela berpijak
dari tanah kelahiranku dan meninggalkan orangtua yang hanya tinggal seorang
ayah dan sanak saudaraku. Demi sesuap nasi, aku harus tinggal ditanah orang.
Tinggal dengan orang yang tak dikenal, dengan orang yang tak punya hubungan
apapun, aku harus tetap hidup dengan mereka untuk bisa bertahan hidup. Ini
adalah salah satu pengalaman ku tinggal lingkungan lintas batas RI-RDTL bersama-sama
dengan orang asing di lintas batas RI-RDTL. Betapa sulitnya aku menghadapi
semua ini, tetapi semua ini kulakukan demi hidupku dan generasi emas di lintas
batas RI-RDTL yang haus akan pendidikan.
Mereka anak generasi Indonesia sangat mengharapkan
nahkoda baru (Guru yang Berjubah kasih sayang) yang datang membawa mereka lewat
kapal tua menuju masa depan Gemilang.
Jeritan mereka yang begitu tajam tidak perna terdengar oleh sang
penguasa negeri ini;
Berteman sebuah laptop tua dan segelas
kopi Hitam ditemani sebatang rokok, aku coba merenungi dan merefleksi hidupku
ini. Seketika, aku terbangun dan teringat akan kata-kata kuno yang sangat
sederhana yang pernah kudengar dari seorang sahabatku biasa di sapa “Shinto”.
Katanya, “di dalam menjalani hidup ni kawan,
janganlah beban yang lebih besar daripada hidup, tetapi hidup ini yang harus
lebih besar dari pada beban”.
SEBAGAI GURU (GGD II) DI TAPAL BATAS
“Hidup di rantauan mengajarkan kita dan
Mengerti akan arti hidup yang sesungguhnya dan berada jauh dari orangtua,
merubah kita menjadi dewasa. Dewasa dalam berpikir, dewasa dalam bertingkah dan
dewasa dalam mengambil keputusan dalam mencerdaskan anak bangsa di lintas batas
RI-RDTL”.
Hari berganti hari, bulan berganti
bulan, tahun pun berganti, tak terasa 3 setengah Tahun sudah kulalui. Canda,
tawa, susah dan senang datang silih berganti. Itulah seni dari kehidupan di
lintas batas RI-RDTL. Sekian lama aku berkumpul bersama orang-orang asing ditempat
yang asing pula di lintas batas RI-RDTL. Kesendirian, kesunyian dan kehampaan saat
datangnya pagi hingga malam pun tiba selalu kurasa dalam hidupku. Betapa sulitnya
aku menyesuaikan diri di tempat yang asing ini di lintas batas RI-RDTL. Tak ada
saudara, tak ada keluarga, sahabat pun jarang ku temui. Dalam keadaan seperti
ini, aku bingung, aku ragu dan aku bimbang dalam menjalankan “Tugas Sebagai Guru
Garis Depan” di batas Wilaya NKRI di lintas batas RI-RDTL dan mengarungi kehidupan,
menjalani hidup ini sendiri bagaikan di luas dan Ganasnya samudra.
Dalam hati kecilku, aku bertanya-tanya,
mampukah aku menjalani semua ini?
Kasih sayang kini tak lagi kurasakan
dari orangtua yang tinggal seorang di kampung halamanku dan sanak saudaraku.
Saat ini, aku dituntut untuk bisa mencari dan menemukan kasih sayang dari
orang-orang asing ini. Tanpa kasih sayang dari keluarga aku harus bisa
menentukan hidupku sendiri. Betapa sulitnya hidup ini di lintas batas RI-RDTL.
Hidup ini tak segampang seperti kita membalikkan telapak tangan kawan dan
sahabatku.
Dengan segala kesederhanaan, dengan
segala kekurangan aku mulai menapaki hidup ini tanpa ditemani seorangpun. Ketika
bersama orangtua yang hanya tinggal seorang ayah dan sanak-saudaraku, walaupun
sederhana tapi aku selalu santai dalam menjalani hidup. Tetapi kini kenyataan
mulai berbalik. Bersama diriku sendiri, aku harus membuat segala sesuatu yang
tak ada menjadi ada. Membuat segala sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin.
Demi hidup masa depanku dan juga masa depan generasi bangsa, aku harus rela berpijak dari tanah kelahiranku dan meninggalkan orangtua yang hanya tinggal seorang ayah dan sanak saudaraku. Demi sesuap nasi, aku harus tinggal ditanah orang. Tinggal dengan orang yang tak dikenal, dengan orang yang tak punya hubungan apapun, aku harus tetap hidup dengan mereka untuk bisa bertahan hidup. Ini adalah salah satu pengalaman ku tinggal lingkungan lintas batas RI-RDTL bersama-sama dengan orang asing di lintas batas RI-RDTL. Betapa sulitnya aku menghadapi semua ini, tetapi semua ini kulakukan demi hidupku dan generasi emas di lintas batas RI-RDTL yang haus akan pendidikan.
Mereka anak generasi Indonesia sangat mengharapkan nahkoda baru (Guru yang Berjubah kasih sayang) yang datang membawa mereka lewat kapal tua menuju masa depan Gemilang.
Jeritan mereka yang begitu tajam tidak perna terdengar oleh sang
penguasa negeri ini;
Berteman sebuah laptop tua dan segelas
kopi Hitam ditemani sebatang rokok, aku coba merenungi dan merefleksi hidupku
ini. Seketika, aku terbangun dan teringat akan kata-kata kuno yang sangat
sederhana yang pernah kudengar dari seorang sahabatku biasa di sapa “Shinto”.
Katanya, “di dalam menjalani hidup ni kawan,
janganlah beban yang lebih besar daripada hidup, tetapi hidup ini yang harus
lebih besar dari pada beban”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar