Sabtu, 11 Mei 2019

MEAN GGD II 2017



ME ANd (15)
Apabila pada akhirnya aku tidak berhasil membuat dia mencintaiku, setidaknya aku akan berusaha mengantarnya mencintai buku Barangkali buku lebih berarti untuk bisa menemani perjalanan hidupnya, bahkan (mungkin) lebih menjamin bagi masa depannya...
ME ANd (16)
Aku sungguh tak istimewa seperti di sekitarmu kini Aku tak punya apa yang mereka punya. Tak cukup bersinar, selayak terang perlindungannya terhadap langkah-langkahmu. Banyak hal yang tidak sanggup aku hadirkan, seperti yang bisa mereka berikan untukmu Bahkan mereka bisa menyakitimu, sedangkan aku tak mampu.
ME ANd (17)
Kita sementara dalam pekerjaan massal untuk menderet sesal menghapus kesal. Kamu yang begitu menyalahkan diri, sebab hanya namaku di bacaan doamu. Akupun sudah lama terbiasa melakukan itu Kita yang tanpa sadar bekerjasama hebat mengingkari kepercayaan satu sama lain. Diam-diam cinta kita masih berada dilevel amatiran, tiap hari mempersembahkan ragu Kita saling menagih bukti kebaikan cinta; Padahal bukti hanyalah ujian bagi orang-orang yang meragu kan?. Bukankah cinta sudah pasti dan mutlak adalah kebaikan itu sendiri?
ME ANd (18)
Kekasih, jika saat ini aparatur sipil negara yang engkau cari, maka sudah pasti aku tidak ditemukan Akan kupasang pagar berduri, bukan untuk mengusirmu pergi. Namun kunanti yang rela satu darah...
ME ANd (19)
Kujumpai dia di sudut belantara yang belum terjamah dunia kapitalis. Masih berdebu seragam yang digunakan, namun matanya tajam memandang dan gerak alisnya ikut bekerja “Karena saya paham di sini tak bersinyal, maka jauh-jauh aku menaklukkan rimba hanya untuk mengabarimu perihal April” ucapku “Ada apa sahabatku, aku berbahagia bisa menemuimu lagi?” akhirnya dia meresponsku “Aku tak ingin mengungkap gamblang bagaimana ekspektasi pemerintah tentang tugasmu kini” “Aku hanya bermaksud memberi kabar; jika kekasihmu menikah dibulan ini, lebih baik engkau berpura-pura gila, minimal usahakan kembali pada kesadaran sebagai bocah. Sehingga sebesar apapun kecewamu nanti, engkau hanya akan meneguk susu, mencekik boneka, dan melabrak mobil-mobilan” Matanya sendu berbinar-binar, tak ingin menatapku lagi “Jika dirimu telah mengunci tekad menjadi pengabdi; tak perlu terlalu bergesa-gesa berpikir
tentang perubahan kehidupan bangsa. Cukup mulai dari kedispilinan dirimu mendidik, aktif mengajak siswa rajin dan maksimal bersekolah, serta Anda menghormati harapan sederhana warga setempat” Otot-ototnya menegang dan mendekap rompi kebanggaannya...
ME ANd (22)
Sahabatku tercinta;
kekasihmu adalah kaum dari Ibuku. Jika engkau menyakitinya, maka aku bersedia pundak untuknya; murid yang engkau didik mengandung maksud Tuhan terhadap hidupnya. Ajaklah berdiskusi, temu kenali potensi berharga mereka.
ME ANd (23)
Kekasih, suatu saat kuajak kamu ke ketinggian bukit untuk membelah gelap dengan mengungkit cahaya batinmu Kita santai bernyanyi dan menertawakan masa lalu, namun serius membakar gulma ego yang terlanjur menjelma Sedemikian rupa sehingga yang tersisa hanyalah kesatuan prinsip untuk mengendarai masa Mendatang
ME ANd (24)
Sahabatku;
kupahami perjalananmu akan terus mengalir
Tak bisa dihalangi bahkan oleh serbuan kemalasan yang mendesir. Engkau tak banyak bicara dan menanya sebelum sudah lengkap menuntaskan aneka rangkap referensi Saat kutanya, “apa orientasimu dalam hidup ini?” Dengan sederhananya dirimu menjawab “praktik cinta terhadap sesama”
ME ANd (25)
Di saat kita lagi sibuk-sibuknya menyuarakan proses PPG dan daya juang alumni. Tak terkecuali rasionalisasi hak kinerja beserta tunjangan dimaksud Kepada kedatangan Ayah, Ibu, Kakak, beserta anggota keluargaku lainnya di Basecare Makassar; kuhatur beribu syukur terima kasih Beliau sedikit banyaknya mempelajari dan menanya apa yang kami kerja selama ini Seperti biasanya, saya pasti kebanyakan menunduk tatkala berhadapan dengan beliau. Sebab kucatat dengan teliti; ternyata saya belum pernah benar-benar membahagiakan keluarga.
Tembusan; Takzim kami kepada Ayahanda Agus Susilohadi
ME ANd (26)
Saya bukan ahli, apalagi termasuk kategori pemain sepak bola handal. Namun untuk urusan mengikuti perkembangan yang terjadi, saya berusaha tak gagal untuk tak mencintai prosesnya
Sejak dulu, adalah Zinedine Zidane dan Gianluigi Buffon menjadi pemain-pemain kebanggaanku. Saya bertanggung jawab penuh terhadap alasan-alasanku kenapa aku mengagumi mereka. Kali ini saya tak akan berbicara banyak tentang pelatih Real Madrid tsb, namun sedikit menyangkut Gianluigi Buffon. Kiper sekaligus kapten Juventus ini baru saja mengecam keras kepemimpinan wasit laga Real Madrid vs Juventus di Liga Champions, Michael Oliver, Kamis (12/4) dini hari. Namun secara keseluruhan Buffon bangga timnya memberikan perlawanan, bahkan sempat unggul 3-0 (menyamakan agregat dua leg menjadi 3-3), sebelum akhirnya penalti itu berbuah skor, mengantar Real Madrid ke semifinal
"Saya baik-baik saja. Hidup harus terus berjalan. Saya senang dan bangga dengan rekan-rekan satu timku. Kami melakukan sesuatu yang nyata, yang tampaknya mustahil. Sayang, berakhir seperti ini," pungkas Buffon
Mengetahui respons kiper berusia 40 tahun diatas, bertambahlah apresiasiku kepadanya. Takzimku kepada kebesaran jiwa yang dimilikinya. Namun daripada itu, saya akhirnya penasaran membayangkan sikap Buffon (semisal menurutnya dikhianati) bukan lagi oleh wasit, namun oleh Perempuan yang begitu dia sayangi “Apakah hidupnya masih baik-baik saja? Apakah kuda-kuda perjalanan hidupnya masih sekokoh seperkasa sebelumnya?”
ME ANd (27)
Sebab ingatmu seharusnya tak mengingkari ‘pernah’ wujudnya, maka dia adalah 'lupa' yang tak boleh engkau terapkan Sedih dan galaumu harus ada durasinya. Segera peroleh hikmahnya dan ciptakan medan ‘peranmu’ yang lain
ME ANd (28 End)
“Setelah menempuh ikhtiar seharian dan menyempurnakannya dengan syukur, maka besok saya niati kembali mengembara dalam lalu lintas kemungkinan hidup” gumam Rahmean setelah menutup deretan catatan diHpnya Seolah menyembunyikan fakta pada tulisannya, saat tadi malam itu sebenarnya dia kedatangan Meanita. Perempuan paling berpengaruh dalam hidupnya Sudah pasti bukan waktu yang tepat mereka bertemu pada kondisi kritis seperti ini Meanita berbasa-basi bertanya kabar kepadanya. Bukankah itu berarti dia begitu percaya diri pada posisi sekarang?
Meanita mengungkit dinamika masa lalu berkepanjangan. Bukankah itu malah mengindikasikan mereka akan mengulang siklus yang sama; sulit menyatu dalam frame hubungan apapun setelahnya?. Meanita sempat meneteskan air mata memohon keikhlasannya. Apakah dengan itu Rahmean masih bisa dikatakan laki-laki; jika dalam kondisi terdesak lantas harus leluasa memaafkannya? Tak tahan menyaksikan kondisi tak berimbang, spontan kubentak mereka “Ribuan sahabat dan
masyarakat di luar sana menunggu partisipasimu. Cepat kalian bubar”
Meanita akhirnya pulang dengan santai dan lega hati (sebab menurutnya semua hal sudah beres).
Sementara Rahmean berpamitan bergegas lari ke sebuah pantai.
#Diketahui Meanita akan menikah dengan pria yang dikenalkan oleh sahabatnya. Sahabat yang mengenalkan pria tersebut kepada Meanita, sebenarnya adalah sahabat lama dari Rahmean. Walau telah hampir 10 tahun Rahmean dan Meanita menjalin asa, namun tak bisa berkuasa atas realitas.
MEAN (Menikahnya Eman dan Ani)
Sepulang dari jakarta, dengan tiket yang sudah ada seharusnya saya bergeser ke Pekanbaru. Namun kuhaturkan maaf kepada sahabat Basecare Riau, saya belum sempat bergabung kali ini untuk agenda maslahat ‘alumni tak pernah berhenti mengabdi’ di sana. Silakan terus digerakkan kerja-kerja terbaik keseluruhan sahabat kita. Dengan tubuh yang masih menggigil sisa tadi malam, kupergunakan sisi batinku yang lain untuk bisa ikut menghadiri dan memberi restu pernikahan perempuan kebanggaan kami semua, Bu
Fitriani Anwar dengan suaminya Pak Eman Rannu Pasalli
Semoga langgeng dan berkah dunia akhirat perjodohan yang dialami. Aamiin ya Rabbal Alamin
#Saat keluar dari lokasi acara, orang tua dari kampung tiba-tiba menghubungiku
“Kamu sudah ke pernikahan Ani kan?”
“Iya Pak, baru saja selesai.” Ucapku
“Oke. Ingat, situasi sudah pasti telah berbeda,” tutup beliau dari kejauhan.
Cc; Ayahanda Agus Susilohadi, Kanda Akmal Siwa, Bari Musawwir
MEAN (62)
Hidup di dunia hanya sekali, maka syukurilah. . .!
Hidup di dunia sebatas sementara, maka berartilah. . .!
Hidup di dunia ini kita tak sendiri. Tak sekadar mengurus keperluan pribadi, maka berbagilah Kehidupan kadang bahagia, silih berganti sedih. Sesaat bersama, ada kalanya berpisah, namun hadapilah.
MEAN (65)
Sebelum menggelar ‘uslub’ dari titik koordinat Sampit; kepada sebagian siswa SMA Ibukota dan mahasiswa pendidikan di President University, kusebarluaskan suatu frekuensi nilai “Hidup Anda bisa tak begitu lengkap, jika belum mengalami nyata kepedulian untuk mereka dikawasan 3T yang sejak dulu menjalani sepi pelayanan” dari Mas Jemi Ngadiono, ‘Founder of 1000 Guru’ saya mempelajari kisah hidup beliau, sejarah, dan orientasi kegelisahan bersama dalam menginisiasi sebanyak mungkin peristiwa mendidik Akupun ikut bersuara;
“SM-3T itu memiliki perbedaan dengan program sejenis lainnya. Salah satunya disebabkan oleh semangat luhur yang dikandung pesertanya bertahan tak bergeser satu sentimeter pun, walau telah menjadi alumni”...

MEAN (66)
Terima kasih sahabat GGD Seruyan atas dampingannya selama di bumi Habaring Hurung (gotong royong) ini. Hanya Tuhan yang bisa membalas jasa-jasa Anda Tepat satu minggu kita bekerja siang dan malam untuk berupaya menangani kendala teknis administratif hak kinerja sahabat dipenempatan. Kita pantau progres dan semoga bisa terealisasikan direntang April ini. Dari kedalaman dimensi sejarah wilayah Sampit, aku pun telah berhasil melepas kisah silam si lincah yang menghimpit Berdasar keluasan potensi alumni, kita juga turut memantau progres program Sabah, menyelipkan ide pada gagasan perubahannya, serta mempelajari peta kecenderungan generasi mendatang...
MEAN (67)
“Apa yang negara tak mampu beli untuk pendidikan? Anak-anak muda yang peduli pendidikan”. Itu kutipan kreatif diseragam panitia pada kegiatan Basecare Yogyakarta hari ini. Dihadiri perwakilan dosen, peserta PPG SM-3T VI, dan Alumni UNY dari angkatan sebelumnya, maka silakan segera masifkan gerakan Basecare Yogyakarta. Mari berusaha membangun pribadi tangguh yang bisa dipercaya, suci hati, dan rasional pikirannya Profesional di bidang mendidik, bisa menjadi solusi di tengah menjalarnya ‘seharusnya’ gelisah kita sebagai alumni
#Baru kali ini aku ke Yogya tanpa sempat mengunjungi Malioboro dan wahana istimewa lainnya. Kusimak kabar dari lubuk firasatku; “limbah kenangan yang menggenang di sana masih dalam proses pengeringan”...
MEAN (68)
Setelah dan sementara ‘diaduk’ oleh peristiwa dan pengalaman mengabdi, Rahmean berkesempatan sejenak duduk ‘Tawarruk’. Bermaksud ‘mengendapkan’ sekian kisah dalam sebuah ‘gelas’ kegelisahan Dia tersadar setiap apa yang digariskan Tuhan terhadapnya memiliki maksud yang harus dia
Praktikkan Rahmean mulai serius menghimpun sejumlah perangkat yang mendukung kompatibilitas sensor batinnya. Ketajaman pena analisis strateginya kembali dia runcingkan Kalimat pembuka pada buku Hijrahnya tertulis;
“Pada posisimu sekarang, sebenarnya tidak ada alasan untukmu tak bersyukur. Maka kerahkanlah kemampuan terbaik dari keseluruhan indera yang diberikan Tuhan untuk sepenuhnya mengurus tugas kemanusiaan”
MEAN (69)
Siapa yang akan peduli dan memahami derita kasihmu wahai sahabat baikku Rahmean.? Engkau ragu menjawab kan? Sebab sepenuhnya itu adalah nasibmu. Entah itu sahabat dekatmu (apalagi Meanita) tak lagi punya akses untuk meladeni rangkaian gelisahmu. Mulai dari sekarang, ciptakan medan peranmu yang lain. Lebih baik kuajak dirimu mengurus
penguatan kinerja dan kebermanfaatan alumni. Serta pemerolehan hak para sahabat;
®       Pertama. Pelajari secara utuh dan ikuti maksud penyampaianku di group
®       Kedua. Silakan bergotong royong eksekusi secara sunyi dan bermaslahat...
MEAN (70)
Menikmati proses ini adalah meyakini bahwa kehidupan tak hanya berhenti di dunia. Menjalani langkah beredar merupakan gabungan silih berganti sabar dan kesyukuran. Mempercayai dinamika berlangsung yaitu bersiap dengan kehilangan apa yang paling engkau kasihi Sampai dirimu betul-betul bisa mengikhlaskan menyeruaknya semerbak Mawar, setelah sebelumnya engkau sibuk menjinakkan durinya.
MEAN (71)
Dibalik ketangguhan laki-laki, bisa saja disebabkan oleh pengaruh perempuan tertentu yang berusaha dia hindari.” Selamat Hari Kartini. Setelah lama tak bertemu, akhirnya bisa berdiskusi melebar dengan sekretarisku di Lembaga Kemahasiswaan dulu, Pak Abdul Haliq Tanrajelling. Beliau memilih menjadi dosen dan sekarang menempuh lanjut studi S3 di Kota Pelajar ini Kami ditakdirkan berjumpa akrab hari ini, barangkali karena bendahara kami (kala itu) bertepatan melaksanakan akad pernikahannya pada hari ini juga
MEAN (73)
Sebuah petuah Mbah guruku EAN yang menemani perjalananku “Segala sesuatu yang dibatasi oleh mati bukanlah sukses. Sukses adalah suatu pencapaian yang melampaui maut, abadi melintasi kematian, mengalir hingga titik simpul dimana akhir dan awal menyatu”
“Tahukah kamu wahat Sahabatku Rahmean, bahwa untuk menyelesaikan sejumlah kendala hak Srikandi kita di lapangan, saya harus dipertemukan khusus dengan pengampu solusi di Pulau Dewata?”
“Kok kamu diam? Apa masih terbayang meriah pernikahan Meanita? “Asal kamu tahu, semua sudah disetting terskenariokan supaya kondusif di hari berbahagia tsb.
Mulai dari siapa yang wajib dan tak boleh sama sekali menghubungimu beberapa jam sebelumnya.
Kamu di urutan keberapa saat bersalaman dengannya. Posisi duduk sahabat yang mengerti persis tarik ulur masalahmu memilih letak pojok di sebelah mana.”
“Pemilihan warna yang pertama kali tampak olehmu, arah sorot pencahayaan, perpaduan bergantinya musik dan tarian, serta tata bentuk segala properti pendukung. Bahkan pembatasan. Lebar senyum siapapun yang mendatangimu seharian itu; terkendali sepenuhnya untuk mengakomodir kelanjutan hidupmu”
MEAN (74)
Jangan lengah menyikapi deretan momentum. Dibumi menawan ini, saya sepertinya reuni bertemu dengan sebagian penggerak dan pengambil kebijakan GGD 2016. Kehadiran ratusan perwakilan dari dinas pendidikan sepertinya ikut mendukung pertemuan kami. Terakhir kita berikhtiar sedemikian rupa cara untuk urusan penerbitan NIP para sahabatku itu, sekarang perihal rasionalisasi hak. Saya percaya dengan tunjangan yang diperoleh nantinya, sahabatku bisa menggunakannya untuk keperluan pengembangan kompetensi, ketangguhan, dan karakter mumpuni sebagai pendidik.
Menjadikannya kendaraan bakti untuk keluarga dan ladang kontribusi bagi masyarakat sekitar.
Syukur dia (tertentu) bisa sisihkan untuk melamar ‘kekasih yang tak gampang goyah memilih yang lain’ Sebab kita akan mengalami pertolongan dari Tuhan dan keberuntungan yang sama sekali tak terduga, jika masih dalam kondisi kebersamaan peduli dan dipenuhi kesabaran “Bercerminlah pada kisah Meanita yang tak sabaran menunggu Rahmean berproses untuk menjadi
manusia.” Kali ini aku membela Sobatku tsb “Saya bisa menunjukkan puluhan bukti berpegang teguhnya ikrar setia Rahmean yang tak mungkin sampai dipahami oleh mata dangkal Meanita”
“Rahmean pernah mengutarakan idiom ‘xinren’ dan ‘senyap’ yang ternyata hanya sebagian mereka mampu memaknai latar, alur, dan prospeknya”.
MEAN (75)
Kalau keberadaan kemarin malam diseputaran konteks pengurusan alumni yang sudah PNS. Sedangkan malam ini terbang menyatu ke lingkaran kesamaan frekuensi adek-adek yang akan mengikuti UKMPPG Ulang dalam tajuk ‘Silaturahmi dan Doa Bersama; Kehadiranku, Kehadiranmu, dan Kehadiran Kita ialah Rindu yang Harus Dibayar Tuntas dengan Lulus 100%’ Inilah ‘resiko indah’ Masyarakat SM-3T Indonesia. Kita harus saling menguatkan dan berbagi asa satu sama lain. Selamat mengalami ketenangan dan keluwesan menghadapi ujian wahai sahabatku. Bismillah…. Semoga apa yang menjadi kehendak dari kita (lulus maksimal) juga merupakan persambungan dari kehendak Tuhan. Aamiin ya Rabbal Alamin.
MEAN (78)
Saya memperoleh memo di awal Mei ini bahwa Rahmean mulai meneliti meniti keberlanjutan program yang memungkinkan diakses adik generasinya kini. Perjalanan tumbuh mekarnya asa tsb sudah pasti memerlukan kesolidan tim kerja serta kajian rasionalisasi kebutuhan yang intens Mengutip pesan dari penulis Lenang Manggala;
“Ada banyak cara untuk bertumbuh: minum susu dan tarik selimutmu, atau berdiskusilah hingga habis jam tidurmu”
Sesal pada diriku tak sempat membaca kalimat terakhir pada memo yang dimaksud; cikal bakal perempuan Meanonim pengganti Meanita itu seperti apa?
MEAN (79)
Berkat pengelolaan kepanitiaan yang mumpuni oleh Ayahanda Agus Susilohadi dan tim kerja yang solid lainnya, maka terselenggaralah sementara ini Hardiknas oleh Kemenristekdikti selama kurang lebih 2 pekan di 2 kota berbeda; Bandung dan Jakarta. Takzim kami kepada kepiawaian Ayahanda. Dengan mengusung Tema ‘Membumikan Pendidikan Tinggi, Meninggikan Kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia’ melalui sejumlah rangkaian agenda dan pembicara yang prestisius. Saya banyak belajar di sini, salah satunya seputar sedemikian rupa potensi sekaligus ‘pekerjaan rumah’ kita sebagai entitas masyarakat berpendidikan. Selebihnya saya hanya kebagian ‘membumbui’ sedikit isi sambutan Pak Dirjen dan memoles memuluskan proses tertentu. Bersamaan dengan hiruk-pikuk di atas, saya bertambah gembira mengetahui ‘semerbak harum’ program MeAN dan dedikasi alumni yang tak berhenti mengabdi disebaran penjuru negeri. Aktivitas yang Anda selenggarakan tsb adalah alasan kita untuk serius mengembarai masa depan
seluruh generasi dengan penuh optimisme. Berdasar titian dan frekuensi cinta yang sama. Selama di sini, saya pun menerima komunikasi dari berbagai sahabat msi yang menanyaku terkait
pemerolehan tunjangan. Kupastikan jawaban dan tindakanku tentulah sama dengan sebelumnya; kami masih terus mengawal dan mengikhtiarkan yang terbaik untuk Anda...
MEAN (80)
Pada diskusi publik hari ini; Menristekdikti, Menteri Keuangan, dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas berkali-kali dan secara gamblang mengulang pentingnya kualitas dan integritas sumber daya manusia Indonesia. Termasuk membincang kompetensi dan karakter guru Saya jadi teringat pada saran sahabatku Rahmean; “Jangan terburu-buru mengungkap cinta pada sang kekasih, jika kelengkapan setiamu masih belum mencukupi Ada saatnya rindu mesti diistirahatkan sejenak, demi untuk mencermati ulang kehendak pertemuan yang dinantikan”
Tembusan; Ayahanda Agus Susilohadi
MEAN (81)
Sesaat setelah saya teruskan info ke satker msi bahwa yang masih terkendala, silakan segera saya diinfokan data ybs secara kolektif dan akurat “Selanjutnya aku bertemu dengannya di sebuah parkiran. Kupahami dia sebagai perkenan Tuhan untuk menemaniku sekian puluh menit Saya diceritakan prinsip mendasar berumah tangga oleh laki-laki berusia 60 an tahun tsb. Pengutamaan kasih sayang oleh beliau saat sebagai pemuda, suami, orang tua, mertua, dan kakek bagi sekian banyak cucunya Belum lagi kesederhanaan dan sopan santun yang dipraktikkannya langsung dihadapanku”
Dia masih terus kupelajari sampai wujudnya berakhir diketerbatasan mataku. Tiba akhirnya kusandarkan letih punggung ini di sisi kiri pelataran masjid Ternyata apa yang kita alami sudah pasti memberi pesan kehidupan. Tak ada alasan untuk tak belajar pada medan makna setiap jengkal peristiwa Saya lantas senyum-senyum sendiri merasakan kehilangan Rahmean bagi Meanita
MEAN (82)
Walau sebentar dan itupun hanya transit bertemu tak lama dibandara Makassar, setidaknya sudah bisa memecah kerinduanku berdiskusi langsung dengan sahabat Basecare Mungkin pemanfaatan momentum seperti ini yang luput dipahami Rahmean kalau itu. Dia asyik berlama-lama dengan Meanita, namun tak dimuati kualitas Padahal menurut Mbah Guruku; “Cinta bukanlah bertahan seberapa lama, tapi seberapa jelas dan ke arah mana?”
MEAN (83)
Baru saja pejabat Dinas Pendidikan salah satu pemda 3T berkonsultasi denganku perihal rencana pelaksanaan Prajabatan GGD 2016 Panjang penjelasanku, tapi intinya agar beliau bisa bersegera mewadahi prosesnya. “Bapak bisa
menempuh jalur koordinasi ke sejumlah level berbeda agar tak ada alasan untuk tak melaksanakannya tahun ini” Andai bisa kuselipkan refleksi kegagalan kisah Rahmean kepadanya, barangkali beliau bisa langsung paham maksudku “Saat Meanita tak berkenan menerima kepastian Rahmean kala itu, sebenarnya masih tersedia peluang komunikasi dengan entitas tertentu yang bisa membelokkan keputusannya” #Sudah beberapa hari di sini, saya seperti mengenang rute penting (Sumba Timur-Bali-Kemendikbud) selama menjadi peserta SM-3T dulu.
MEAN (84)
Sebelum darah SM-3T menggenangi menguasai tindakanku, diorganisasi kemahasiswaan inilah aku digembleng sedemikian rupa. Di sini kukenal embrio Meanita Aku belajar menikmati proses. Meniti dinamika tanggung jawab. Mencintai keseluruhan dirinya tanpa harus peduli intervensi takdir setelahnya. Bertepatan dengan Sabtu malam ini, di ketetapan musyawarah tertinggi yang ke-14, maka kutetapkan pula tak boleh lagi mengungkit kisah Meanita
MEAN (85)
Apa yang masih harus tersisa, salah satunya yakni tenaga perjuangan untuk alumni tak berhenti mengabdi. Kita proyeksikan lebih teknis di rapat insidentil MSI malam ini Setelah sebelumnya siang sampai sore tadi, berkesempatan merasakan kesyukuran saudara Firdaus Arsyad, GGD Kep. Morotai dengan hajatan aqiqah anaknya; Muhammad Thariq Ghazi Firdaus. “Dewasalah menjadi pejuang tangguh seperti Bapakmu” Begitupun hatur doa terbaik bagi kebahagiaan saudara Abd. Rahman yang menikah dengan sesama Alumni SM-3T. “Berumah tanggahlah dengan tidak meninggalkan cita rasa kesetiaan SM-3T”
MEAN (86)
Setelah menjalani beberapa hari di ibukota ini, selain untuk mengomunikasikan keperluan sekian banyak sahabatku, juga yang tak kalah pentingnya adalah menginisiasi partisipasi bersama untuk mewujudkan Indonesia berkeadilan dan penuh kedamaian Sekiranya Masyarakat SM-3T Indonesia bisa terlibat aktif dalam pencerdasan wawasan kebangsaan bagi warga sekolah dan masyarakat yang ditemui “Kita ditakdirkan lahir ditanah air ini, maka sudah menjadi tugas keseharian kita untuk ikut menerbitkan senyum ibu pertiwi” Bersamaan dengan ini pula, kuhatur permohonan maaf kepada sahabatku semua sebagai pengantar kita memasuki bulan suci Ramadhan; Baik kepada sahabatku yang mengalami hari-hari berpuasa tahun ini dalam situasi berbeda; sudah ditemani oleh suami/istri tercinta. Begitupun bagi sahabat lainnya yang masih betah melanjutkan status sebelumnya; mereka yang
tak ingin disebut ‘sendiri’, sebab sudah lebih awal menamai dirinya ‘mandiri’
MEAN (88)
Selamat menjalankan ibadah minum kopi wahai sahabatku. Kamu suka kopi apa? “Aku penganut kopi yang ketika diseduh, bisa menjinakkan dan meneduhkan sedih. Kejujuran rasa yang diungkitnya adalah gairah merakit masa depan. Aku penikmat kopi yang jika diteguk, sang kekasih seketika itu hadir dengan setianya yang mutlak. Jika tiba-tiba akibat suatu benturan kopiku jatuh dan tumpah, maka aku langsung berkeluh kesah
mengadu kepada Allah.” #Pada kesempatan ini, kuhatur selamat menerima hasil UKMPPG ulang yang sudah bisa diakses. Mari menjadikan ketetapan ‘Lulus dan Belum Lulus’ sebagai pemicu kita untuk tetap menginisiasi kehidupan yang lebih baik ke depannya
MEAN (89)
Bukan keperluan sejenak yang mempertemukan sebagian satker MSI malam ini, namun keharusan kita meniti keseimbangan kerja Bahwa selain bentangan hak sahabat kita, juga tersedia tanggung jawab mengedukasi yang tak boleh mengenal henti “Kalau pun kita berpisah sementara kelak, maka berangkatlah ketika hujan turun. Agar punggungmu dihalangi deras yang mengarah, sehingga air mata tak dicatat sejarah”
Tembusan; Ayahanda Agus Susilohadi, Kanda Bari Musawwir
MEAN (90)
Bolak-balik ke sini, namun hari dan malam ini cukup berbeda. Bisa melangsungkan Tarawih dan sebagian besar waktu diendapan sunyi Mesjid-Nya.
“Setelah kucermati duka Rahmean yang begitu kehilangan, saya titip pesan untuknya; bahwa dirinya tak boleh dimuati apapun selain berlaku syukur kepada Tuhan dan berbuat baik bagi sesama. Silakan dia memulainya dari membenahi parameter dan proporsi dalam memandang kehidupan
MEAN (91)
Selalu saja hatiku bergetar terharu, jika sejumlah sahabat mengabarkan rindunya kembali mengabdi. Tak berhenti ikhtiar kita mengemukakan hal-hal baik, apabila mereka bermaksud mengulang ketangguhannya berjuang. Namun satu yang tak bisa kudukung, jika Rahmean menegosiasiku bertandang ke masa lalunya.
MEAN (92)
Jika dirimu giat berkarya dan menulis, maka kupersembahkan cintaku yang dalam seluas-luasnya. Sedemikian rupa diri ini berserah padamu; engkau akan arahkan aku ke mana dan harus menerjang apa?
MEAN (93)
Wahai sahabatku di belahan penjuru nusantara; tetaplah teguh menekuni transformasi aktivitasmu.
Temukan nikmat bersama-Nya dalam menjalani segenap dinamika kehidupan Kita masih punya kerinduan pengabdian sahabat dan sejumlah generasi satu frekuensi. Kita sementara berhutang syukur kepada Tuhan. Terasa tak lengkap keberadaan ini, jika peserta didik dan masyarakat tak memperoleh senyum kemandiriannya.
MEAN (94)
“Tuhan tidak menuntut kita untuk sukses. Tuhan hanya menyuruh kita berjuang tanpa henti” pesan Mbah Emha Ainun Nadjib Terima kasih atas ketulusanmu tanpa letih mendidik kami mencari hakikat dan keseimbangan hidup menuju kepada-Nya Sehat terus Mbah guru kami EAN, Aamiin ya Rabbal Alamin #65tahuncaknun
MEAN (96)
Ibu, kecantikanmu luar biasa tak tertandingi oleh apapun bentuk yang pernah diciptakan-Nya
Ibu, engkau yang tak berbatas kasing sayang. Tak pernah jujur mengungkap letih mengasuh dan mendoakan kami
Ibu, aku rindu sosokmu mampu melekat kepadanya kelak.
MEAN (98)
Tiba-tiba teringat sempurna tetesan air matanya
Pada waktu itu, Rahmean sama sekali tak ingin mengecewakannya. Input kesedihan dan pilihan
sepintas seharusnya tak boleh terjadi
Bukankah yang dipegang dari laki-laki adalah janjinya? Ketika dia ingkar, maka laki-laki tersebut
melukai 2 hal besar; Perempuannya dan Harga dirinya.
MEAN (99)
“Siapa saja ‘srikandi’ yang belum terbit adminitrasi pendidik dan legitimasi tunjangannya?” “Masih ada berapa alumni tersedia dan adik generasimu yang layak kita perjuangkan?”
Sebelum kurespons sang penanya; maka biarlah kuhela nafas mendalam dengan hitungan cukup lama, kupersilakan firasatku bekerja menyerap pengalamannya selama ini...
MEAN (100)
Kita sudah memasuki bulan Juni. Menarik benang merah dari gabungan perumusan dasar di asrama, pelajaran penting dari metabolisme sebelumnya, serta perencanaan nasional sementara ini Seperti pada 2 tahun terakhir; di pertengahan tahun saat sekarang, kita begitu mempercayai berbagai ikhtiar dan doa yang kita persembahkan akan menggerakkan perkenan-Nya untuk menjembatani maksud luhur sahabatku ‘Sesajian’ ikhlas berupa praktik baik, gagasan inovasi memberi perubahan, berlangsungnya kasih sayang sosial, dan kesanggupan literasi menyetia proses seharusnya banyak memuncak di bulan 6.
MEAN (101)
“Begitu engkau menjadi manusia, maka engkau mempunyai kewajiban untuk mencintai sesame manusia, siapapun dia” ungkap Mbah Guru EAN Mewakili Masyarakat SM-3T se-Indonesia dalam rangkaian HarLah msi ke-3, panitia hari ini telah menyerahkan bantuan bahan makanan dan kitab suci kepada Panti Asuhan Nur Qadri, Makassar. Sekaligus dilanjutkan dengan doa bersama; turut memunajatkan kelancaran dan keberkahan segala hajatan sahabat semua, termasuk permohonan khusus bagi yang belum menemukan
jodohnya agar segera dihadirkan.
MEAN (102)
Semoga sahabatku Rahmean sehat-sehat saja, diberikan stamina menyaksikan gambar berikut. Setelah terjebak bernostalgia, dia mungkin tersenyum setelahnya. Ingin segera memantik rintik hujan di lepas pertengahan tahun ini.
MEAN (103)
Sudah 4 tahun lebih, GGD telah menjadi kekasih utamaku. Kusimpan berdasar kesucian 2 jenis rompi dengan apik dilemari klasikku. Kehadirannya mengalahkan ‘pernah’ berbagai kekasihku. Mewujudkannya memompa apapun yang bisa kuberi. Apa yang bergelisah dirasakannya, pasti terbit dipelupuk mataku. Entah bagaimanapun yang terjadi ke depannya, aku tetap mencintainya. Sebab kupercayai mereka mengampu daya syukur, serta menjalani maksud dan misi perjuangan gerakan ini.
MEAN (104)
Terima kasih kepada Ayahanda Agus Susilohadi atas berbagai wejangan kepada kami. Bagaimana perlunya mengaktualkan jeda serta refleksi dalam setiap situasi. Menikmati pekerjaan berdasar hikmah kesyukuran Arahan agar kami mampu menemukan metode paling kreatif dan efektif dalam mengelola
pembelajaran dan program. Tak berhenti melahirkan karya dan gagasan perubahan Serta yang paling utama adalah peneladanan karakter baik dan penerapan sikap profesional dalam mengemban segala amanah yang berjalan. Semoga kekeluargaan seperti ini selalu mendapat bimbingan dan keutuhan dari-Nya. Sehingga “cinta kita tak akan terbelah” seperti yang termaktub dalam lirik lagu ‘Cinta Kita’ karya Slank.
MEAN (105)
Dengan menempuh sekian jam berkendara kereta ke sini untuk kembali merasakan ketakjuban dari-Mu. Kami berserah diri terhadap apapun ketentuan masa depan termasuk yang dimaksud dengan jodoh, karena Engkaulah yang punya kuasa mutlak menentukan akhir dari semua pencarian. Sejauh
manapun kami berikhtiar, pada ujung perjalanan akan terbentur juga pada keputusan Tuhan “Sebagaimana Mohamed Salah tak bisa memastikan dia bermain sampai pertandingan usai. Pun seperti Zinedine Zidane di luar dugaan tak lagi mengarsiteki Segio Ramos dkk sesuai harapan
penggemarnya” Sebenarnya yang terakhir ingin kusampaikan berupa hatur kebahagiaan kepada sahabat kami Kaharman Ibo, koordinator GGD Kab. Buru yang telah melangsungkan akad nikahnya hari ini bersama perempuan sesama penempatan GGD dengan asal domisili ditanah yang sementara kupijak. Semoga pernikahanmu wahai sobat dianugerahkan berkah kelanggengan dunia akhirat. Diberi kekuatan menerjang segala dinamika berumah tangga, Aamiin ya Rabbal Alamin
MEAN (106)
Bersyukur bisa berbuka puasa bersama sebagian sahabat SM-3T sepenempatanku. Aku mau tidak mau harus menjawabnya ketika ditanya perihal perempuan terlewat yang pernah mereka harapkan bersamaku “Jika menggunakan sisi hatiku bagian kiri untuk merespons kepergiannya, bisa saja sepenuhnya aku menyalahkan dia dimaksud. Namun apabila memakai perspektif hatiku sebelah kanan, maka ku persembahkan dukungan terbaik bagi pilihan hidupnya kini”
Mendengar tanggapanku itu, keduanya saya yakin belum puas. Walau seperti itu, mereka masih sama baiknya dengan yang dulu, masih menitipkan motivasi dan membagiku praktik baik berumah tangga
MEAN (107)
Kita tak pernah berpijak di atas waktu. Kita mengalir bersamanya. Terang benderang masa depan bergantung petikan pesan masa lalu dan kewaspadaan saat sekarang. Sebagaimana saya tak mau mengingkari proses berhargaku diLembaga Kemahasiswaan FBS UNM dulu, maka malam ini kubersilaturahmi dengan sebagian aktivis dan penggeraknya.
MEAN (108)
Aku punya potensi waktu sekitar 9 hari di sini untuk merakit rencana sampai akhir tahun ini Sebab kupercaya tanah kelahiran menawarkan peluang menerbitkan kelahiran baru. Pesan dari kontemplasi Siwa lazimnya akan cenderung berpihak pada entitas siapa yang produktif berkarya dan mementingkan kemaslahatan bersama?. Bersamaan dengan itu, saya juga dinanti bertemu oleh sahabat lama bernama ‘LaLino. Sosoknya terbilang abstrak dan kadang karena kesibukan ke luar diri, maka kami sulit saling menyapa “Dari aura yang diisyaratkannya, dia ingin bercerita banyak dan berkeluh kesah dari hasil pengamatannya selama ini”
x

Tidak ada komentar:

Posting Komentar