MEAN GGD II 2017
ME ANd (15)
Apabila pada akhirnya aku tidak
berhasil membuat dia mencintaiku, setidaknya aku akan berusaha mengantarnya
mencintai buku Barangkali buku lebih berarti untuk bisa menemani perjalanan
hidupnya, bahkan (mungkin) lebih menjamin bagi masa depannya...
ME ANd (16)
Aku
sungguh tak istimewa seperti di sekitarmu kini Aku tak punya apa yang mereka punya.
Tak cukup bersinar, selayak terang perlindungannya terhadap langkah-langkahmu.
Banyak hal yang tidak sanggup aku hadirkan, seperti yang bisa mereka berikan
untukmu Bahkan mereka bisa menyakitimu, sedangkan aku tak mampu.
ME ANd (17)
Kita
sementara dalam pekerjaan massal untuk menderet sesal menghapus kesal. Kamu
yang begitu menyalahkan diri, sebab hanya namaku di bacaan doamu.
Akupun sudah lama terbiasa melakukan itu Kita yang tanpa sadar bekerjasama
hebat mengingkari kepercayaan satu sama lain. Diam-diam cinta kita masih berada
dilevel amatiran, tiap hari mempersembahkan ragu Kita saling menagih bukti
kebaikan cinta; Padahal bukti hanyalah ujian bagi orang-orang yang meragu kan?.
Bukankah cinta sudah pasti dan mutlak adalah kebaikan itu sendiri?
ME ANd (18)
Kekasih,
jika saat ini aparatur sipil negara yang engkau cari, maka sudah pasti aku
tidak ditemukan Akan kupasang pagar berduri, bukan untuk mengusirmu pergi.
Namun kunanti yang rela satu darah...
ME ANd (19)
Kujumpai
dia di sudut belantara yang belum terjamah dunia kapitalis. Masih berdebu
seragam yang digunakan, namun matanya tajam memandang dan gerak alisnya ikut
bekerja “Karena saya paham di sini tak bersinyal, maka jauh-jauh aku
menaklukkan rimba hanya untuk mengabarimu perihal April” ucapku “Ada apa
sahabatku, aku berbahagia bisa menemuimu lagi?” akhirnya dia meresponsku “Aku
tak ingin mengungkap gamblang bagaimana ekspektasi pemerintah tentang tugasmu
kini” “Aku hanya bermaksud memberi kabar; jika kekasihmu menikah dibulan ini,
lebih baik engkau berpura-pura gila, minimal usahakan kembali pada kesadaran
sebagai bocah. Sehingga sebesar apapun kecewamu nanti, engkau hanya akan
meneguk susu, mencekik boneka, dan melabrak mobil-mobilan” Matanya sendu
berbinar-binar, tak ingin menatapku lagi “Jika dirimu telah mengunci tekad
menjadi pengabdi; tak perlu terlalu bergesa-gesa berpikir
tentang
perubahan kehidupan bangsa. Cukup mulai dari kedispilinan dirimu mendidik, aktif
mengajak siswa rajin dan maksimal bersekolah, serta Anda menghormati harapan
sederhana warga setempat” Otot-ototnya menegang dan mendekap rompi
kebanggaannya...
ME ANd (22)
Sahabatku
tercinta;
kekasihmu
adalah kaum dari Ibuku. Jika engkau menyakitinya, maka aku bersedia pundak untuknya;
murid yang engkau didik mengandung maksud Tuhan terhadap hidupnya. Ajaklah
berdiskusi, temu kenali potensi berharga mereka.
ME ANd (23)
Kekasih,
suatu saat kuajak kamu ke ketinggian bukit untuk membelah gelap dengan
mengungkit cahaya batinmu Kita santai bernyanyi dan menertawakan masa lalu,
namun serius membakar gulma ego yang terlanjur menjelma Sedemikian rupa
sehingga yang tersisa hanyalah kesatuan prinsip untuk mengendarai masa Mendatang
ME ANd (24)
Sahabatku;
kupahami
perjalananmu akan terus mengalir
Tak
bisa dihalangi bahkan oleh serbuan kemalasan yang mendesir. Engkau tak banyak
bicara dan menanya sebelum sudah lengkap menuntaskan aneka rangkap referensi Saat
kutanya, “apa orientasimu dalam hidup ini?” Dengan sederhananya dirimu menjawab
“praktik cinta terhadap sesama”
ME ANd (25)
Di
saat kita lagi sibuk-sibuknya menyuarakan proses PPG dan daya juang alumni. Tak
terkecuali rasionalisasi hak kinerja beserta tunjangan dimaksud Kepada
kedatangan Ayah, Ibu, Kakak, beserta anggota keluargaku lainnya di Basecare
Makassar; kuhatur beribu syukur terima kasih Beliau sedikit banyaknya
mempelajari dan menanya apa yang kami kerja selama ini Seperti biasanya, saya
pasti kebanyakan menunduk tatkala berhadapan dengan beliau. Sebab kucatat
dengan teliti; ternyata saya belum pernah benar-benar membahagiakan keluarga.
Tembusan;
Takzim kami
kepada Ayahanda Agus Susilohadi
ME ANd (26)
Saya
bukan ahli, apalagi termasuk kategori pemain sepak bola handal. Namun untuk
urusan mengikuti perkembangan yang terjadi, saya berusaha tak gagal untuk tak mencintai
prosesnya
Sejak
dulu, adalah Zinedine Zidane dan Gianluigi Buffon menjadi pemain-pemain
kebanggaanku. Saya bertanggung jawab penuh terhadap alasan-alasanku kenapa aku
mengagumi mereka. Kali ini saya tak akan berbicara banyak tentang pelatih Real Madrid
tsb, namun sedikit menyangkut Gianluigi
Buffon. Kiper sekaligus kapten Juventus ini baru saja mengecam keras
kepemimpinan wasit laga Real Madrid vs Juventus di Liga Champions, Michael
Oliver, Kamis (12/4) dini hari. Namun secara keseluruhan Buffon bangga timnya
memberikan perlawanan, bahkan sempat unggul 3-0 (menyamakan agregat dua leg
menjadi 3-3), sebelum akhirnya penalti itu berbuah skor, mengantar Real Madrid
ke semifinal
"Saya
baik-baik saja. Hidup harus terus berjalan. Saya senang dan bangga dengan
rekan-rekan satu timku. Kami melakukan sesuatu yang nyata, yang tampaknya
mustahil. Sayang, berakhir seperti ini," pungkas Buffon
Mengetahui
respons kiper berusia 40 tahun diatas, bertambahlah apresiasiku kepadanya. Takzimku
kepada kebesaran jiwa yang dimilikinya. Namun daripada itu, saya akhirnya
penasaran membayangkan sikap Buffon (semisal menurutnya dikhianati) bukan lagi
oleh wasit, namun oleh Perempuan yang begitu dia sayangi “Apakah hidupnya masih
baik-baik saja? Apakah kuda-kuda perjalanan hidupnya masih sekokoh seperkasa
sebelumnya?”
ME ANd (27)
Sebab
ingatmu seharusnya tak mengingkari ‘pernah’ wujudnya, maka dia adalah 'lupa'
yang tak boleh engkau terapkan Sedih dan galaumu harus ada durasinya. Segera
peroleh hikmahnya dan ciptakan medan ‘peranmu’ yang lain
ME ANd (28
End)
“Setelah
menempuh ikhtiar seharian dan menyempurnakannya dengan syukur, maka besok saya niati
kembali mengembara dalam lalu lintas kemungkinan hidup” gumam Rahmean setelah menutup
deretan catatan diHpnya Seolah menyembunyikan fakta pada tulisannya, saat tadi
malam itu sebenarnya dia kedatangan Meanita. Perempuan paling berpengaruh dalam
hidupnya Sudah pasti bukan waktu yang tepat mereka bertemu pada kondisi kritis
seperti ini Meanita berbasa-basi bertanya kabar kepadanya. Bukankah itu berarti
dia begitu percaya diri pada posisi sekarang?
Meanita
mengungkit dinamika masa lalu berkepanjangan. Bukankah itu malah
mengindikasikan mereka akan mengulang siklus yang sama; sulit menyatu dalam
frame hubungan apapun setelahnya?. Meanita sempat meneteskan air mata memohon
keikhlasannya. Apakah dengan itu Rahmean masih bisa dikatakan laki-laki; jika
dalam kondisi terdesak lantas harus leluasa memaafkannya? Tak tahan menyaksikan
kondisi tak berimbang, spontan kubentak mereka “Ribuan sahabat dan
masyarakat
di luar sana menunggu partisipasimu. Cepat kalian bubar”
Meanita
akhirnya pulang dengan santai dan lega hati (sebab menurutnya semua hal sudah
beres).
Sementara
Rahmean berpamitan bergegas lari ke sebuah pantai.
#Diketahui
Meanita akan menikah dengan pria yang dikenalkan oleh sahabatnya. Sahabat yang mengenalkan
pria tersebut kepada Meanita, sebenarnya adalah sahabat lama dari Rahmean. Walau
telah hampir 10 tahun Rahmean dan Meanita menjalin asa, namun tak bisa berkuasa
atas realitas.
MEAN (Menikahnya
Eman dan Ani)
Sepulang
dari jakarta, dengan tiket yang sudah ada seharusnya saya bergeser ke
Pekanbaru. Namun kuhaturkan maaf kepada sahabat Basecare Riau, saya belum
sempat bergabung kali ini untuk agenda maslahat ‘alumni tak pernah berhenti
mengabdi’ di sana. Silakan terus digerakkan kerja-kerja terbaik keseluruhan
sahabat kita. Dengan tubuh yang masih menggigil sisa tadi malam, kupergunakan
sisi batinku yang lain untuk bisa ikut menghadiri dan memberi restu pernikahan
perempuan kebanggaan kami semua, Bu
Fitriani
Anwar dengan suaminya Pak Eman Rannu Pasalli
Semoga
langgeng dan berkah dunia akhirat perjodohan yang dialami. Aamiin ya Rabbal Alamin
#Saat
keluar dari lokasi acara, orang tua dari kampung tiba-tiba menghubungiku
“Kamu
sudah ke pernikahan Ani kan?”
“Iya
Pak, baru saja selesai.” Ucapku
“Oke.
Ingat, situasi sudah pasti telah berbeda,” tutup beliau dari kejauhan.
Cc;
Ayahanda Agus Susilohadi, Kanda Akmal Siwa, Bari Musawwir
MEAN (62)
Hidup
di dunia hanya sekali, maka syukurilah. . .!
Hidup
di dunia sebatas sementara, maka berartilah. . .!
Hidup
di dunia ini kita tak sendiri. Tak sekadar mengurus keperluan pribadi, maka
berbagilah Kehidupan kadang bahagia, silih berganti sedih. Sesaat bersama, ada
kalanya berpisah, namun hadapilah.
MEAN (65)
Sebelum
menggelar ‘uslub’ dari titik koordinat Sampit; kepada sebagian siswa SMA
Ibukota dan mahasiswa pendidikan di President University, kusebarluaskan suatu
frekuensi nilai “Hidup Anda bisa tak begitu lengkap, jika belum mengalami nyata
kepedulian untuk mereka dikawasan 3T yang sejak dulu menjalani sepi pelayanan” dari
Mas Jemi Ngadiono, ‘Founder of 1000 Guru’ saya mempelajari kisah hidup beliau,
sejarah, dan orientasi kegelisahan bersama dalam menginisiasi sebanyak mungkin
peristiwa mendidik Akupun ikut bersuara;
“SM-3T
itu memiliki perbedaan dengan program sejenis lainnya. Salah satunya disebabkan
oleh semangat luhur yang dikandung pesertanya bertahan tak bergeser satu
sentimeter pun, walau telah menjadi alumni”...
MEAN (66)
Terima
kasih sahabat GGD Seruyan atas dampingannya selama di bumi Habaring Hurung
(gotong royong) ini. Hanya Tuhan yang bisa membalas jasa-jasa Anda Tepat satu
minggu kita bekerja siang dan malam untuk berupaya menangani kendala teknis administratif
hak kinerja sahabat dipenempatan. Kita pantau progres dan semoga bisa terealisasikan
direntang April ini. Dari kedalaman dimensi sejarah wilayah Sampit, aku pun telah
berhasil melepas kisah silam si lincah yang menghimpit Berdasar keluasan
potensi alumni, kita juga turut memantau progres program Sabah, menyelipkan ide
pada gagasan perubahannya, serta mempelajari peta kecenderungan generasi
mendatang...
MEAN (67)
“Apa
yang negara tak mampu beli untuk pendidikan? Anak-anak muda yang peduli
pendidikan”. Itu kutipan kreatif diseragam panitia pada kegiatan Basecare
Yogyakarta hari ini. Dihadiri perwakilan dosen, peserta PPG SM-3T VI, dan Alumni
UNY dari angkatan sebelumnya, maka silakan segera masifkan gerakan Basecare
Yogyakarta. Mari berusaha membangun pribadi tangguh yang bisa dipercaya, suci
hati, dan rasional pikirannya Profesional di bidang mendidik, bisa menjadi
solusi di tengah menjalarnya ‘seharusnya’ gelisah kita sebagai alumni
#Baru
kali ini aku ke Yogya tanpa sempat mengunjungi Malioboro dan wahana istimewa
lainnya. Kusimak kabar dari lubuk firasatku; “limbah kenangan yang menggenang
di sana masih dalam proses pengeringan”...
MEAN (68)
Setelah
dan sementara ‘diaduk’ oleh peristiwa dan pengalaman mengabdi, Rahmean berkesempatan
sejenak duduk ‘Tawarruk’. Bermaksud ‘mengendapkan’ sekian kisah dalam sebuah
‘gelas’ kegelisahan Dia tersadar setiap apa yang digariskan Tuhan terhadapnya
memiliki maksud yang harus dia
Praktikkan
Rahmean mulai serius menghimpun sejumlah perangkat yang mendukung
kompatibilitas sensor batinnya. Ketajaman pena analisis strateginya kembali dia
runcingkan Kalimat pembuka pada buku Hijrahnya tertulis;
“Pada
posisimu sekarang, sebenarnya tidak ada alasan untukmu tak bersyukur. Maka kerahkanlah
kemampuan terbaik dari keseluruhan indera yang diberikan Tuhan untuk sepenuhnya
mengurus tugas kemanusiaan”
MEAN (69)
Siapa
yang akan peduli dan memahami derita kasihmu wahai sahabat baikku Rahmean.? Engkau
ragu menjawab kan? Sebab sepenuhnya itu adalah nasibmu. Entah itu sahabat
dekatmu (apalagi Meanita) tak lagi punya akses untuk meladeni rangkaian
gelisahmu. Mulai dari sekarang, ciptakan medan peranmu yang lain. Lebih baik
kuajak dirimu mengurus
penguatan
kinerja dan kebermanfaatan alumni. Serta pemerolehan hak para sahabat;
® Pertama.
Pelajari secara utuh dan ikuti maksud penyampaianku di group
® Kedua.
Silakan bergotong royong eksekusi secara sunyi dan bermaslahat...
MEAN (70)
Menikmati
proses ini adalah meyakini bahwa kehidupan tak hanya berhenti di dunia. Menjalani
langkah beredar merupakan gabungan silih berganti sabar dan kesyukuran. Mempercayai
dinamika berlangsung yaitu bersiap dengan kehilangan apa yang paling engkau
kasihi Sampai dirimu betul-betul bisa mengikhlaskan menyeruaknya semerbak
Mawar, setelah sebelumnya engkau sibuk menjinakkan durinya.
MEAN (71)
Dibalik
ketangguhan laki-laki, bisa saja disebabkan oleh pengaruh perempuan tertentu
yang berusaha dia hindari.” Selamat Hari Kartini. Setelah lama tak bertemu,
akhirnya bisa berdiskusi melebar dengan sekretarisku di Lembaga Kemahasiswaan
dulu, Pak Abdul Haliq Tanrajelling. Beliau memilih menjadi dosen dan sekarang menempuh
lanjut studi S3 di Kota Pelajar ini Kami ditakdirkan berjumpa akrab hari ini,
barangkali karena bendahara kami (kala itu) bertepatan melaksanakan akad
pernikahannya pada hari ini juga
MEAN (73)
Sebuah
petuah Mbah guruku EAN yang menemani perjalananku “Segala sesuatu yang dibatasi
oleh mati bukanlah sukses. Sukses adalah suatu pencapaian yang melampaui maut,
abadi melintasi kematian, mengalir hingga titik simpul dimana akhir dan awal menyatu”
“Tahukah
kamu wahat Sahabatku Rahmean, bahwa untuk menyelesaikan sejumlah kendala hak Srikandi
kita di lapangan, saya harus dipertemukan khusus dengan pengampu solusi di
Pulau Dewata?”
“Kok
kamu diam? Apa masih terbayang meriah pernikahan Meanita? “Asal kamu tahu,
semua sudah disetting terskenariokan supaya kondusif di hari berbahagia tsb.
Mulai
dari siapa yang wajib dan tak boleh sama sekali menghubungimu beberapa jam
sebelumnya.
Kamu
di urutan keberapa saat bersalaman dengannya. Posisi duduk sahabat yang
mengerti persis tarik ulur masalahmu memilih letak pojok di sebelah mana.”
“Pemilihan
warna yang pertama kali tampak olehmu, arah sorot pencahayaan, perpaduan bergantinya
musik dan tarian, serta tata bentuk segala properti pendukung. Bahkan
pembatasan. Lebar senyum siapapun yang mendatangimu seharian itu; terkendali
sepenuhnya untuk mengakomodir kelanjutan hidupmu”
MEAN (74)
Jangan
lengah menyikapi deretan momentum. Dibumi menawan ini, saya sepertinya reuni bertemu
dengan sebagian penggerak dan pengambil kebijakan GGD 2016. Kehadiran ratusan perwakilan
dari dinas pendidikan sepertinya ikut mendukung pertemuan kami. Terakhir kita
berikhtiar sedemikian rupa cara untuk urusan penerbitan NIP para sahabatku itu,
sekarang perihal rasionalisasi hak. Saya percaya dengan tunjangan yang
diperoleh nantinya, sahabatku bisa menggunakannya untuk keperluan pengembangan
kompetensi, ketangguhan, dan karakter mumpuni sebagai pendidik.
Menjadikannya
kendaraan bakti untuk keluarga dan ladang kontribusi bagi masyarakat sekitar.
Syukur
dia (tertentu) bisa sisihkan untuk melamar ‘kekasih yang tak gampang goyah
memilih yang lain’ Sebab kita akan mengalami pertolongan dari Tuhan dan keberuntungan
yang sama sekali tak terduga, jika masih dalam kondisi kebersamaan peduli dan
dipenuhi kesabaran “Bercerminlah pada kisah Meanita yang tak sabaran menunggu
Rahmean berproses untuk menjadi
manusia.”
Kali ini aku membela Sobatku tsb “Saya bisa menunjukkan puluhan bukti berpegang
teguhnya ikrar setia Rahmean yang tak mungkin sampai dipahami oleh mata dangkal
Meanita”
“Rahmean
pernah mengutarakan idiom ‘xinren’ dan ‘senyap’ yang ternyata hanya sebagian
mereka mampu memaknai latar, alur, dan prospeknya”.
MEAN (75)
Kalau
keberadaan kemarin malam diseputaran konteks pengurusan alumni yang sudah PNS. Sedangkan
malam ini terbang menyatu ke lingkaran kesamaan frekuensi adek-adek yang akan mengikuti
UKMPPG Ulang dalam tajuk ‘Silaturahmi dan Doa Bersama; Kehadiranku,
Kehadiranmu, dan Kehadiran Kita ialah Rindu yang Harus Dibayar Tuntas dengan
Lulus 100%’ Inilah ‘resiko indah’ Masyarakat SM-3T Indonesia. Kita harus saling
menguatkan dan berbagi asa satu sama lain. Selamat mengalami ketenangan dan
keluwesan menghadapi ujian wahai sahabatku. Bismillah….
Semoga apa yang menjadi kehendak dari kita (lulus maksimal) juga merupakan
persambungan dari kehendak Tuhan. Aamiin ya Rabbal Alamin.
MEAN (78)
Saya
memperoleh memo di awal Mei ini bahwa Rahmean mulai meneliti meniti
keberlanjutan program yang memungkinkan diakses adik generasinya kini. Perjalanan
tumbuh mekarnya asa tsb sudah pasti memerlukan kesolidan tim kerja serta kajian
rasionalisasi kebutuhan yang intens Mengutip pesan dari penulis Lenang
Manggala;
“Ada
banyak cara untuk bertumbuh: minum susu dan tarik selimutmu, atau berdiskusilah
hingga habis jam tidurmu”
Sesal
pada diriku tak sempat membaca kalimat terakhir pada memo yang dimaksud; cikal
bakal perempuan Meanonim pengganti Meanita itu seperti apa?
MEAN
(79)
Berkat pengelolaan kepanitiaan yang
mumpuni oleh Ayahanda Agus Susilohadi dan tim kerja yang solid lainnya, maka terselenggaralah
sementara ini Hardiknas oleh Kemenristekdikti selama kurang lebih 2 pekan di 2
kota berbeda; Bandung dan Jakarta. Takzim kami kepada kepiawaian Ayahanda. Dengan
mengusung Tema ‘Membumikan Pendidikan Tinggi, Meninggikan Kualitas Sumber Daya Manusia
Indonesia’ melalui sejumlah rangkaian agenda dan pembicara yang prestisius. Saya
banyak belajar di sini, salah satunya seputar sedemikian rupa potensi sekaligus
‘pekerjaan rumah’ kita sebagai entitas masyarakat berpendidikan. Selebihnya
saya hanya kebagian ‘membumbui’ sedikit isi sambutan Pak Dirjen dan memoles
memuluskan proses tertentu. Bersamaan dengan hiruk-pikuk di atas, saya
bertambah gembira mengetahui ‘semerbak harum’ program MeAN dan dedikasi alumni
yang tak berhenti mengabdi disebaran penjuru negeri. Aktivitas yang Anda
selenggarakan tsb adalah alasan kita untuk serius mengembarai masa depan
seluruh generasi dengan penuh
optimisme. Berdasar titian dan frekuensi cinta yang sama. Selama di sini, saya
pun menerima komunikasi dari berbagai sahabat msi yang menanyaku terkait
pemerolehan tunjangan. Kupastikan
jawaban dan tindakanku tentulah sama dengan sebelumnya; kami masih terus
mengawal dan mengikhtiarkan yang terbaik untuk Anda...
MEAN (80)
Pada
diskusi publik hari ini; Menristekdikti, Menteri Keuangan, dan Menteri
Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas berkali-kali dan secara gamblang
mengulang pentingnya kualitas dan integritas sumber daya manusia Indonesia. Termasuk
membincang kompetensi dan karakter guru Saya jadi teringat pada saran sahabatku
Rahmean; “Jangan terburu-buru mengungkap cinta pada sang kekasih, jika
kelengkapan setiamu masih belum mencukupi Ada saatnya rindu mesti
diistirahatkan sejenak, demi untuk mencermati ulang kehendak pertemuan yang
dinantikan”
Tembusan;
Ayahanda Agus Susilohadi
MEAN (81)
Sesaat
setelah saya teruskan info ke satker msi bahwa yang masih terkendala, silakan
segera saya diinfokan data ybs secara kolektif dan akurat “Selanjutnya aku
bertemu dengannya di sebuah parkiran. Kupahami dia sebagai perkenan Tuhan untuk
menemaniku sekian puluh menit Saya diceritakan prinsip mendasar berumah tangga
oleh laki-laki berusia 60 an tahun tsb. Pengutamaan kasih sayang oleh beliau
saat sebagai pemuda, suami, orang tua, mertua, dan kakek bagi sekian banyak
cucunya Belum lagi kesederhanaan dan sopan santun yang dipraktikkannya langsung
dihadapanku”
Dia
masih terus kupelajari sampai wujudnya berakhir diketerbatasan mataku. Tiba
akhirnya kusandarkan letih punggung ini di sisi kiri pelataran masjid Ternyata
apa yang kita alami sudah pasti memberi pesan kehidupan. Tak ada alasan untuk
tak belajar pada medan makna setiap jengkal peristiwa Saya lantas senyum-senyum
sendiri merasakan kehilangan Rahmean bagi Meanita
MEAN (82)
Walau
sebentar dan itupun hanya transit bertemu tak lama dibandara Makassar,
setidaknya sudah bisa memecah kerinduanku berdiskusi langsung dengan sahabat
Basecare Mungkin pemanfaatan momentum seperti ini yang luput dipahami Rahmean
kalau itu. Dia asyik berlama-lama dengan Meanita, namun tak dimuati kualitas Padahal
menurut Mbah Guruku; “Cinta bukanlah bertahan seberapa lama, tapi seberapa
jelas dan ke arah mana?”
MEAN (83)
Baru
saja pejabat Dinas Pendidikan salah satu pemda 3T berkonsultasi denganku
perihal rencana pelaksanaan Prajabatan GGD 2016 Panjang penjelasanku, tapi
intinya agar beliau bisa bersegera mewadahi prosesnya. “Bapak bisa
menempuh
jalur koordinasi ke sejumlah level berbeda agar tak ada alasan untuk tak
melaksanakannya tahun ini” Andai bisa kuselipkan refleksi kegagalan kisah
Rahmean kepadanya, barangkali beliau bisa langsung paham maksudku “Saat Meanita
tak berkenan menerima kepastian Rahmean kala itu, sebenarnya masih tersedia peluang
komunikasi dengan entitas tertentu yang bisa membelokkan keputusannya” #Sudah
beberapa hari di sini, saya seperti mengenang rute penting (Sumba
Timur-Bali-Kemendikbud) selama menjadi peserta SM-3T dulu.
MEAN (84)
Sebelum
darah SM-3T menggenangi menguasai tindakanku, diorganisasi kemahasiswaan inilah
aku digembleng sedemikian rupa. Di sini kukenal embrio Meanita Aku belajar
menikmati proses. Meniti dinamika tanggung jawab. Mencintai keseluruhan dirinya
tanpa harus peduli intervensi takdir setelahnya. Bertepatan dengan Sabtu malam
ini, di ketetapan musyawarah tertinggi yang ke-14, maka kutetapkan pula tak
boleh lagi mengungkit kisah Meanita
MEAN (85)
Apa
yang masih harus tersisa, salah satunya yakni tenaga perjuangan untuk alumni
tak berhenti mengabdi. Kita proyeksikan lebih teknis di rapat insidentil MSI
malam ini Setelah sebelumnya siang sampai sore tadi, berkesempatan merasakan
kesyukuran saudara Firdaus Arsyad, GGD Kep. Morotai dengan hajatan aqiqah
anaknya; Muhammad Thariq Ghazi Firdaus. “Dewasalah menjadi pejuang tangguh
seperti Bapakmu” Begitupun hatur doa terbaik bagi kebahagiaan saudara Abd.
Rahman yang menikah dengan sesama Alumni SM-3T. “Berumah tanggahlah dengan
tidak meninggalkan cita rasa kesetiaan SM-3T”
MEAN (86)
Setelah
menjalani beberapa hari di ibukota ini, selain untuk mengomunikasikan keperluan
sekian banyak sahabatku, juga yang tak kalah pentingnya adalah menginisiasi
partisipasi bersama untuk mewujudkan Indonesia berkeadilan dan penuh kedamaian Sekiranya
Masyarakat SM-3T Indonesia bisa terlibat aktif dalam pencerdasan wawasan kebangsaan
bagi warga sekolah dan masyarakat yang ditemui “Kita ditakdirkan lahir ditanah
air ini, maka sudah menjadi tugas keseharian kita untuk ikut menerbitkan senyum
ibu pertiwi” Bersamaan dengan ini pula, kuhatur permohonan maaf kepada
sahabatku semua sebagai pengantar kita memasuki bulan suci Ramadhan; Baik
kepada sahabatku yang mengalami hari-hari berpuasa tahun ini dalam situasi
berbeda; sudah ditemani oleh suami/istri tercinta. Begitupun bagi sahabat
lainnya yang masih betah melanjutkan status sebelumnya; mereka yang
tak ingin disebut ‘sendiri’, sebab
sudah lebih awal menamai dirinya ‘mandiri’
MEAN (88)
Selamat
menjalankan ibadah minum kopi wahai sahabatku. Kamu suka kopi apa? “Aku
penganut kopi yang ketika diseduh, bisa menjinakkan dan meneduhkan sedih.
Kejujuran rasa yang diungkitnya adalah gairah merakit masa depan. Aku penikmat
kopi yang jika diteguk, sang kekasih seketika itu hadir dengan setianya yang
mutlak. Jika tiba-tiba akibat suatu benturan kopiku jatuh dan tumpah, maka aku
langsung berkeluh kesah
mengadu
kepada Allah.” #Pada kesempatan ini, kuhatur selamat menerima hasil UKMPPG ulang
yang sudah bisa diakses. Mari menjadikan ketetapan ‘Lulus dan Belum Lulus’
sebagai pemicu kita untuk tetap menginisiasi kehidupan yang lebih baik ke
depannya
MEAN (89)
Bukan
keperluan sejenak yang mempertemukan sebagian satker MSI malam ini, namun
keharusan kita meniti keseimbangan kerja Bahwa selain bentangan hak sahabat
kita, juga tersedia tanggung jawab mengedukasi yang tak boleh mengenal henti “Kalau
pun kita berpisah sementara kelak, maka berangkatlah ketika hujan turun. Agar punggungmu
dihalangi deras yang mengarah, sehingga air mata tak dicatat sejarah”
Tembusan; Ayahanda Agus
Susilohadi, Kanda Bari Musawwir
MEAN (90)
Bolak-balik
ke sini, namun hari dan malam ini cukup berbeda. Bisa melangsungkan Tarawih dan
sebagian besar waktu diendapan sunyi Mesjid-Nya.
“Setelah
kucermati duka Rahmean yang begitu kehilangan, saya titip pesan untuknya; bahwa
dirinya tak boleh dimuati apapun selain berlaku syukur kepada Tuhan dan berbuat
baik bagi sesama. Silakan dia memulainya dari membenahi parameter dan proporsi
dalam memandang kehidupan
MEAN (91)
Selalu
saja hatiku bergetar terharu, jika sejumlah sahabat mengabarkan rindunya
kembali mengabdi. Tak berhenti ikhtiar kita mengemukakan hal-hal baik, apabila
mereka bermaksud mengulang ketangguhannya berjuang. Namun satu yang tak bisa
kudukung, jika Rahmean menegosiasiku bertandang ke masa lalunya.
MEAN (92)
Jika
dirimu giat berkarya dan menulis, maka kupersembahkan cintaku yang dalam
seluas-luasnya. Sedemikian rupa diri ini berserah padamu; engkau akan arahkan aku
ke mana dan harus menerjang apa?
MEAN (93)
Wahai
sahabatku di belahan penjuru nusantara; tetaplah teguh menekuni transformasi
aktivitasmu.
Temukan
nikmat bersama-Nya dalam menjalani segenap dinamika kehidupan Kita masih punya
kerinduan pengabdian sahabat dan sejumlah generasi satu frekuensi. Kita sementara
berhutang syukur kepada Tuhan. Terasa tak lengkap keberadaan ini, jika peserta didik
dan masyarakat tak memperoleh senyum kemandiriannya.
MEAN (94)
“Tuhan
tidak menuntut kita untuk sukses. Tuhan hanya menyuruh kita berjuang tanpa
henti” pesan Mbah Emha Ainun Nadjib Terima kasih atas ketulusanmu tanpa letih
mendidik kami mencari hakikat dan keseimbangan hidup menuju kepada-Nya Sehat
terus Mbah guru kami EAN, Aamiin ya Rabbal Alamin #65tahuncaknun
MEAN (96)
Ibu,
kecantikanmu luar biasa tak tertandingi oleh apapun bentuk yang pernah
diciptakan-Nya
Ibu,
engkau yang tak berbatas kasing sayang. Tak pernah jujur mengungkap letih
mengasuh dan mendoakan kami
Ibu,
aku rindu sosokmu mampu melekat kepadanya kelak.
MEAN (98)
Tiba-tiba
teringat sempurna tetesan air matanya
Pada
waktu itu, Rahmean sama sekali tak ingin mengecewakannya. Input kesedihan dan
pilihan
sepintas
seharusnya tak boleh terjadi
Bukankah
yang dipegang dari laki-laki adalah janjinya? Ketika dia ingkar, maka laki-laki
tersebut
melukai 2 hal besar; Perempuannya dan
Harga dirinya.
MEAN
(99)
“Siapa
saja ‘srikandi’ yang belum terbit adminitrasi pendidik dan legitimasi
tunjangannya?” “Masih ada berapa alumni tersedia dan adik generasimu yang layak
kita perjuangkan?”
Sebelum
kurespons sang penanya; maka biarlah kuhela nafas mendalam dengan hitungan
cukup lama, kupersilakan firasatku bekerja menyerap pengalamannya selama ini...
MEAN (100)
Kita
sudah memasuki bulan Juni. Menarik benang merah dari gabungan perumusan dasar
di asrama, pelajaran penting dari metabolisme sebelumnya, serta perencanaan
nasional sementara ini Seperti pada 2 tahun terakhir; di pertengahan tahun saat
sekarang, kita begitu mempercayai berbagai ikhtiar dan doa yang kita
persembahkan akan menggerakkan perkenan-Nya untuk menjembatani maksud luhur
sahabatku ‘Sesajian’ ikhlas berupa praktik baik, gagasan inovasi memberi perubahan,
berlangsungnya kasih sayang sosial, dan kesanggupan literasi menyetia proses
seharusnya banyak memuncak di bulan 6.
MEAN (101)
“Begitu
engkau menjadi manusia, maka engkau mempunyai kewajiban untuk mencintai sesame manusia,
siapapun dia” ungkap Mbah Guru EAN Mewakili Masyarakat SM-3T se-Indonesia dalam
rangkaian HarLah msi ke-3, panitia hari ini telah menyerahkan bantuan bahan
makanan dan kitab suci kepada Panti Asuhan Nur Qadri, Makassar. Sekaligus
dilanjutkan dengan doa bersama; turut memunajatkan kelancaran dan keberkahan segala
hajatan sahabat semua, termasuk permohonan khusus bagi yang belum menemukan
jodohnya agar segera dihadirkan.
MEAN (102)
Semoga
sahabatku Rahmean sehat-sehat saja, diberikan stamina menyaksikan gambar
berikut. Setelah terjebak bernostalgia, dia mungkin tersenyum setelahnya. Ingin
segera memantik rintik hujan di lepas pertengahan tahun ini.
MEAN (103)
Sudah
4 tahun lebih, GGD telah menjadi kekasih utamaku. Kusimpan berdasar kesucian 2
jenis rompi dengan apik dilemari klasikku. Kehadirannya mengalahkan ‘pernah’
berbagai kekasihku. Mewujudkannya memompa apapun yang bisa kuberi. Apa yang
bergelisah dirasakannya, pasti terbit dipelupuk mataku. Entah bagaimanapun yang
terjadi ke depannya, aku tetap mencintainya. Sebab kupercayai mereka mengampu
daya syukur, serta menjalani maksud dan misi perjuangan gerakan ini.
MEAN (104)
Terima
kasih kepada Ayahanda Agus Susilohadi atas berbagai wejangan kepada kami. Bagaimana
perlunya mengaktualkan jeda serta refleksi dalam setiap situasi. Menikmati
pekerjaan berdasar hikmah kesyukuran Arahan agar kami mampu menemukan metode
paling kreatif dan efektif dalam mengelola
pembelajaran
dan program. Tak berhenti melahirkan karya dan gagasan perubahan Serta yang
paling utama adalah peneladanan karakter baik dan penerapan sikap profesional
dalam mengemban segala amanah yang berjalan. Semoga kekeluargaan seperti ini
selalu mendapat bimbingan dan keutuhan dari-Nya. Sehingga “cinta kita tak akan
terbelah” seperti yang termaktub dalam lirik lagu ‘Cinta Kita’ karya Slank.
MEAN (105)
Dengan
menempuh sekian jam berkendara kereta ke sini untuk kembali merasakan
ketakjuban dari-Mu. Kami berserah diri terhadap apapun ketentuan masa depan
termasuk yang dimaksud dengan jodoh, karena Engkaulah yang punya kuasa mutlak
menentukan akhir dari semua pencarian. Sejauh
manapun
kami berikhtiar, pada ujung perjalanan akan terbentur juga pada keputusan Tuhan
“Sebagaimana Mohamed Salah tak bisa memastikan dia bermain sampai pertandingan
usai. Pun seperti Zinedine Zidane di luar dugaan tak lagi mengarsiteki Segio
Ramos dkk sesuai harapan
penggemarnya”
Sebenarnya yang terakhir ingin kusampaikan berupa hatur kebahagiaan kepada
sahabat kami Kaharman Ibo, koordinator GGD Kab. Buru yang telah melangsungkan
akad nikahnya hari ini bersama perempuan sesama penempatan GGD dengan asal
domisili ditanah yang sementara kupijak. Semoga pernikahanmu wahai sobat
dianugerahkan berkah kelanggengan dunia akhirat. Diberi kekuatan menerjang
segala dinamika berumah tangga, Aamiin ya Rabbal Alamin
MEAN (106)
Bersyukur
bisa berbuka puasa bersama sebagian sahabat SM-3T sepenempatanku. Aku mau tidak
mau harus menjawabnya ketika ditanya perihal perempuan terlewat yang pernah
mereka harapkan bersamaku “Jika menggunakan sisi hatiku bagian kiri untuk
merespons kepergiannya, bisa saja sepenuhnya aku menyalahkan dia dimaksud.
Namun apabila memakai perspektif hatiku sebelah kanan, maka ku persembahkan
dukungan terbaik bagi pilihan hidupnya kini”
Mendengar
tanggapanku itu, keduanya saya yakin belum puas. Walau seperti itu, mereka
masih sama baiknya dengan yang dulu, masih menitipkan motivasi dan membagiku
praktik baik berumah tangga
MEAN (107)
Kita
tak pernah berpijak di atas waktu. Kita mengalir bersamanya. Terang benderang
masa depan bergantung petikan pesan masa lalu dan kewaspadaan saat sekarang. Sebagaimana
saya tak mau mengingkari proses berhargaku diLembaga Kemahasiswaan FBS UNM
dulu, maka malam ini kubersilaturahmi dengan sebagian aktivis dan penggeraknya.
MEAN (108)
Aku
punya potensi waktu sekitar 9 hari di sini untuk merakit rencana sampai akhir
tahun ini Sebab kupercaya tanah kelahiran menawarkan peluang menerbitkan
kelahiran baru. Pesan dari kontemplasi Siwa lazimnya akan cenderung berpihak
pada entitas siapa yang produktif berkarya dan mementingkan kemaslahatan
bersama?. Bersamaan dengan itu, saya juga dinanti bertemu oleh sahabat lama
bernama ‘LaLino. Sosoknya terbilang abstrak dan kadang karena kesibukan ke luar
diri, maka kami sulit saling menyapa “Dari aura yang diisyaratkannya, dia ingin
bercerita banyak dan berkeluh kesah dari hasil pengamatannya selama ini”
x
Tidak ada komentar:
Posting Komentar